a journey

Martabak Telur Isi Cinta

4 komentar
Keluarga

“Yah, bagaimana masakannya?”. Kalimat itu sering kali terdengar dari istriku, terlebih saat Ramadhan ini, saat kami menyantap hidangan yang di masaknya. Sedang aku, asyik masyhuk dengan hidangan ifthar yang dibuatnya.
Kutatap bidadari di depanku yang meminta penilaian, dan kujawab bahwa masakannya enak. Singkat dan jelas.

Hidangan Spesial Untuk Buka Puasa

Suatu ketika pertanyaan itu kembali terulang, dan kujawab sama: enak. Ia tersenyum, sambil berkilah bahwa ia pernah membaca artikel tentang bagaimana penilaian suami terhadap masakan istrinya, tidak usah ditanya, lihatlah bagaimana cara suami makan di setiap masakan yang disediakan sang istri.
Aku ikut tersenyum, sembari terus melahap martabak telur yang dibuatnya hari ini untuk takjil. Martabak telur ini spesial, karena dibuat oleh tangan yang penuh cinta, walau isian yang biasanya daging cincang, telur, kadang di modifikasi dengan tambahan tahu, hari ini diganti karena si abang tukang sayur langganan tak kunjung lewat. Jadilah mi rebus yang di campur telur di kreasikan sebagai isi kulit lumpia.
Apa pun itu, kulit lumpia yang telah melewati penggorengan, aromanya semerbak di waktu-waktu menjelang Magrib. Jadilah puasa hari ketiga, kita buka dengan sepiring martabak spesial isi mi plus telur.
Walaupun ia tahu bahwa habisnya setiap masakan pertanda dinikmati setiap lahapannya, dan indikasi masakannya mendapatkan penilaian layak, pertanyaan tentang bagaimana rasa masakan yang di buatnya masih sering diutarakan. Selain karena di bulan Ramadhan ini setiap proses memasak tidak bisa di coba terlebih dahulu, dan yang paling sering teledor dari pihakku sebagai penikmat kuliner buatannya adalah: pujian. 
Bahkan sering kalah start oleh keluguan putriku yang berumur lima tahun ketika dengan polosnya berucap “ wah.. masakan bunda enak.. ”.

Maaf dan Terima Kasih

Maafkan suamimu karena kurang cakap, bahkan dalam menyusun kalimat sederhana untuk mengapresiasi hidangan yang dengan penuh ketulusan disiapkan.
Terima kasih karena dengan tanpa bosannya kreativitas masakan yang di racik sempurna, selalu tersedia untuk keluarga kita.

Related Posts

4 komentar

  1. Ko sama ya.....setiap suami selesai makan pasti langsung diberondong dg pertanyaan...enak g? Ada yg kurang? Jawabannya selalu enak Tak kurang suatu pun....setuju sekali suami hrs memuji masakannya...klu g ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, semoga bisa belajar menjadi suami yang lebih peka :)

      Hapus
  2. Waaw amazing, semoga s lalu samawa kang

    BalasHapus

Posting Komentar