Sahur Sang Pemula

6 komentar

Ramadhan adalah bulan kesabaran, sabar dalam segala aspek, terlebih di tengah wabah pandemi corona seperti ini. Setiap individu di uji level kesabarannya oleh Allah dengan ragam cobaan, yang harus kita yakini adalah setiap ujian kesabaran yang menimpa kita, Allah berikan untuk menguji seberapa kuat keimanan kita terhadap-Nya.
Ujian kecil yang Allah berikan kepada keluarga kami adalah mengajarkan shaum Ramadhan kepada sang putra sulung, tekadnya untuk belajar menunaikan shaum sangat luar biasa, namun adaptasi dengan shaum yang merubah pola kesehariannya kadang membuatnya uring-uringan; bertahan dengan rasa lapar, menahan lelahnya taraweh dan susahnya bangun sahur.
Bangun sahur adalah poin yang juga tak kalah dramatisir, walau tidak terjadi setiap hari. Adakalanya membangunkan anak yang berumur tujuh tahun itu lancar, namun acapkali sering dengan penuh perjuangan. Merubah pola tidur dan bangun memang tak semudah membalikan tangan untuk anak yang sedang belajar shaum.
Bagaimana cara mengatasi susahnya membangunkan sang pangeran yang sedang terlelap?.
Bawa saja langsung, rangkul dan gendong ke tempat makan setelah proses membangunkan secara verbal tak mempan. Hasilnya, harum masakan sang permaisuri rumah tangga membuatnya sedikit membuka mata, mengumpulkan kesadaran akan posisinya yang sedang duduk di meja makan.

Yonal Regen
I'm a Father of four, educator at Raudlotul Ulum School and author of Narasi Ayah Guru

Related Posts

6 komentar

  1. Anak saya yg udh 10 tahun aja belum hideng pa

    BalasHapus
  2. Bener Pak untuk pembelajaran juga bagi putranya tuk bisa melawan kantuk sehingga hrs sahur...salut dg raja dn permaisurinys

    BalasHapus
  3. Perjuangan ya membangunkan sahur itu

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email