a journey

Jalan Ninjaku Mengisi Ramadan

6 komentar
belajar dan mengajar

Beberapa hari sebelum memasuki Ramadan, rasanya mengunjungi orang tua adalah sesuatu yang sakral yang harus dilakukan. Bersilaturahmi sembari memohon maaf sebelum puasa, agar bisa menjadi modal mengawali ibadah-ibadah di bulan Ramadan dengan khusu. 

Saat silaturahmi ke rumah Ummi (Demikian ibu dipanggil), beliau meminta Ramadan kali ini dibantu mengajari anak-anak majlis taklim binaannya untuk mengaji. Ummi memang menghabiskan masa sepuhnya dengan mengelola pengajian di rumah kami dulu yang disulap menjadi sebuah majlis taklim.

Mengisi Kegiatan Bulan Ramadan Dengan Mengajar dan Belajar

Hari demi hari, anak-anak yang mengaji di majlis taklim yang diberi nama Al-hidayah ini semakin banyak. Mulai dari umur 3 tahun yang mulai belajar iqra, sampai anak-anak ABG yang belajar mengenal mengaji kitab kuning.

Di luar bulan Ramadan, saking banyaknya anak-anak yang mengaji yang menyebabkan daya tampung majlis tidak muat, biasanya pengajian dibagi menjadi dua, ashar untuk anak-anak usia 7 tahun ke bawah yang mengaji iqra, dan magrib untuk usia tujuh tahun ke atas untuk yang mengaji Quran dan kitab. 

Di bulan Ramadan, pengajian biasanya dilakukan serentak setelah salat dzuhur. Karena waktunya berbarengan ini, maka ummi meminta bantuanku untuk mengajari anak-anak yang ingin belajar mengaji kitab kuning.

Titah ummi adalah sebuah keberkahan, tak ada kompromi untuk menawarnya, apalagi menolaknya. Kusanggupi untuk mengajari anak-anak belajar kitab kuning, mengisi waktu Ramadan mereka. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah untuk doa-doa selama ini, agar semua ilmu-ilmu yang telah dipelajari dapat bermanfaat, walau sedikit. 

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allâh! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima

Pengalaman dulu pernah merasakan dunia pesantren, membawa pada masa sekarang yang ilmunya harus diajarkan kembali. Walaupun tak mumpuni, tak apa. Berprinsip pada hadis riwayat Bukhari nomor 3461:

Sampaikanlah dariku, walau pun satu ayat

Menjadi motivasi, agar apa pun yang kita miliki, terlebih masalah ilmu, sejatinya harus di ajarkan kembali, agar terasa kemanfaatan dan keberkahannya.

Mengajar Kitab Kuning

Setelah berdiskusi dengan Ummi, kami sepakat untuk mengajari anak-anak ilmu fikih, khusus fikih puasa, dengan referensi kitab kuning yang membahas fikih dasar, Safinatun najaa. Kenapa memilih tema tersebut?. Karena momennya pas di bulan Ramadan, sehingga sepertinya cocok membahas masalah puasa. Kenapa sudut pandang fikih yang diajarkan?. Karena pada kenyataannya, masih banyak anak-anak muda, bahkan juga orang dewasa yang belum mengetahui hukum-hukum sekitar pelaksanaan ibadah saum ini.

Dalam kitab safinah ini, bahasan tentang Ramadan lumayan lengkap, diantaranya:

  • Bab syarat sah puasa
  • Bab syarat wajib puasa
  • Bab rukun puasa
  • Bab hal-hal yang membatalkan puasa
  • Bab tentang Qodo puasa

Belajar Kembali

mengaji

Untuk mengajarkan ilmu fikih puasa kepada anak-anak, tentu tak bisa langsung begitu saja, harus dipersiapkan sebaik mungkin. Langkah awal yang harus ditempuh adalah mutholaah, mempelajari kembali materi-materi yang berhubungan dengan apa yang akan disampaikan, yaitu yang berkenaan dengan hukum-hukum puasa.

Permintaan ummi untuk mengajar ini menjadi momen yang berharga, karena selain men-share pengetahuan kepada anak-anak muda tentang ilmu fikih yang berhubungan dengan puasa, pada hakikatnya, ini adalah waktu yang tepat untuk juga kembali belajar, membuka kitab-kitab khasanah keilmuan Islam. me-refresh memori tentang hukum-hukum puasa yang terkadang kita lupakan.

Yang Muda Yang Mengaji

Ada rasa syukur ketika melihat anak-anak yang sedang beranjak remaja ini duduk di hadapan kitab yang sedang dikajinya. Betapa waktu setelah zuhur adalah waktu yang nyaman untuk tidur siang di waktu Ramadan, tetapi mereka lebih memilih menenteng kitab kuning untuk berangkat mengaji.

Semoga mereka menjadi pewaris ilmu para nabi, penerus para kiai, dan pengganti para ulama di masa depan. Semoga semangat mereka tak hanya di bulan Ramdan saja, tetapi terus penasaran untuk menggali ilmu keagamaan.

Penutup

Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih bisa bertemu dengan bulan Ramadan kembali. Maka sejatinya kita harus menjadikan setiap Ramadan mempunyai momen dan pengalaman terbaik, anggap ini adalah Ramadan terakhir dalam hidup kita, agar memotivasi untuk beribadah secara maksimal semampu kita.

Apapun jalan kita untuk mengisi Ramadan ini, semoga itu adalah sesuatu yang positif, yang akan membawa dampak kebaikan, baik untuk diri kita, maupun untuk orang lain di sekitar kita.

Salam




#ceritaramadankmpro
#ramadhanplannerpertamadiindonesia

Related Posts

6 komentar

  1. Baarakallah, Mas. Semoga ilmunya manfaat. Mengajar adalah zakatnya ilmu. Mantap.

    Salam kenal dari https://muhammadamin.my.id

    BalasHapus
  2. sampai sekarang aku juga masih haus ilmu, apapun itu.
    dan selama ramadhan, diusahakan lebih giat lagi diisi dengan kegiatan keagamaan seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kak Ainun semangat buat belajarnya, keep konsisten ya. Amin

      Hapus
  3. Jazakallahu khoiron katsiir mas, semoga apa yang mas lakukan diridhoi Allah SWT & menjadi pemberat timbangan amal kebaikan. Insya Allah.

    Anyway ternyata yang "sampaikan walau hanya 1 ayat" itu sumbernya hadits ya.

    BalasHapus

Posting Komentar