Saat anak-anak sedang mengikuti program Tandem Baper (Empat Jam Tanpa Android Bersama Perpustakaan), sebuah program mengisi libur sekolah yang bermanfaat di Diarpus Kabupaten Sukabumi waktu libur sekolah semester ganjil kemarin, saya mengantarkan mereka selama kegiatan tersebut ke perpustakaan di Cisaat. Sambil menunggu kelas mereka berlangsung, saya mencari buku-buku di lantai 2 perpustakaan untuk dibaca. Di antara sekian bacaan, ada buku tentang ayah dengan judul; Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? yang menarik perhatian.
Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? tidak terlalu besar dan tidak terlalu tebal juga. Saya pun selesai membacanya di kisaran 2 jam selama menunggu kelas anak-anak. Di setiap halaman bacaannya pun tak terlalu panjang-panjang, ringkas, melow tapi to the point.
Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?
Ketika awal melihat judul buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? ingatan ini langsung tertuju pada almarhum bapak yang meninggal setahun lalu. Semakin dibuka dan menelusuri diksi demi diksi di buku ini kilasan kenangan dengan bapak semakin menjadi-menjadi.
Tidak semua tulisan di buku tentang ayah karya Khoirul Trian ini relate dengan kehidupan hubungan ayah anak versi saya, tetapi memang buku ini cocok dibaca untuk yang sedang merasa kehilangan sosok ayah, baik yang memang kehilangan karena ayah telah meninggal atau pun karena hal lainnya seperti ayah yang bercerai dengan ibu, tak pernah tahu sosok ayah karena tak pernah bertemu, atau bisa jadi sosoknya ada tapi kasih sayangnya entah kemana.
Buku yang diinfokan di halaman mukanya akan diangkat ke layar lebar ini hadir dengan 5 chapter dan 1 penutup special chapter. Di setiap bab nya seakan mewakili dinamika hati setiap anak yang merasa ditinggal dalam kehilangan dan di bagian akhir adalah jawaban dari sudut pandang sosok ayah untuk setiap anak.
Gambaran ringkas curhatan anak yang kehilangan ayah di setiap halaman buku ini salah satunya ada dalam rangkaian diksi ini:
Tapi dari 24 jam dalam sehariaku ga bisa kelihatan kuat terus
Bajingan, ya
Selalu saja ada malam yang habis dengan menangis
Gapapa 'kan mengeluh sebentar?
Ini terlalu cape
Membaca dari gaya bahasanya buku ini sepertinya memang cocok untuk gen Z yang sedang mengalami isu fatherless dan rasa kehilangan yang berelasi dengan hubungan ayah anak.
Buku dengan judul lengkap Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? Anak Kecil ini Kehilangan Jalan pulangnya bisa menjadi teman saat sedang di puncak rasa kehilangan karena memang dibuat dengan bahasa yang menyentuh dan menyayat hati. Tapi untuk usia saya yang sedang belajar mengikhlaskan kepergian ayah tanpa banyak drama, buku ini tak terlalu menggetarkan hati walaupun memang menggugah kenangan dan juga kerinduan terhadap sosok ayah yang telah tiada.
Buku Tentang Ayah
Ayah dan cintanya dalam diam memang tak akan sepenuhnya dipahami oleh keterbatasan pemahaman setiap anak, bahkan ketika ia sudah tiada. Bahkan banyak yang masih belum memahami kenapa ayah dan rasa sayangnya begitu misteri.
Para penulis banyak menghadirkan tema ayah yang bisa membantu kita belajar sudut pandang ayah dari berbagai versi. Setidaknya dalam belajarnya kita tentang ayah, buku-buku tentang ayah ini bisa menjadi teman setia.
Di antara sekian tema ayah Selain Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? yang bisa kita nikmati buku-bukunya antara lain ada Andrea Hirata dengan Ayah dan Sirkus Pohon,Tere Liye dengan Ayahku (Bukan) Pembohong, Seribu Wajah Ayah dari Nurun Nala, dan Ayah: Pemilik Cinta yang Terlupakan dari Eidelweis Almira.
Lesson Learned dari Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?
Isu fatherless di negeri kita memang mengkhawatirkan. Banyak anak yang dipaksa yatim karena ketiadaan sosok yang seyogianya jadi salah satu tempat berlindung teraman dalam hidup.
Tapi hidup memang harus berlanjut. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah jangan sampai hal seperti itu terulang pada generasi selanjutnya. Yakinkan bahwa anak-anak kita nanti adalah anak yang tidak akan merasa tidak ada pegangan hidup dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Pastikan akan ada kasih sayang orang tua yang akan selalu menjadi penguat hidup mereka.
Jika kebetulan posisi teman-teman sedang dalam berada seperti karakter dalam buku tentang ayah terbitan Gradien Mediatama ini, just take your time, karena beginilah hidup, ada kalanya kita ditinggalkan atau suatu saat meninggalkan dan semoga buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? bisa menjadi salah satu yang memeluk luka kesendirian kita.









Daku baru tahu kalau buku ini menjadi inspirasi dan akan diangkat ke layar kaca.
BalasHapusTapi wajar juga sih karena dari segi judulnya yang bikin terhenyak. Apalagi dari sisi lain bisa menjadi inspirasi karena isu fatherless ini seakan jadi momok yang belum ditemukan jawabannya.
Semoga daku bisa baca bukunya dulu, sebelum jadi film.
aku pengen baca tapi takut nangis :(
BalasHapus