Bulan lalu ikut program tantangan membaca buku yang diadakan oleh Komunitas ODOP (One Day One Post) yang bertajuk RCO atau Reading Challenge ODOP selama 4 pekan. Di setiap pekannya minimal kita harus menyelesaikan 1 buku, jadi 1 bulan 4 buku. Uniknya di RCO ini setiap pekannya tema dan atau genre buku yang akan kita baca ditentukan oleh panitia, seperti di salah satu pekannya kita diharuskan membaca jenis buku yang di luar kebiasaan membaca kita.
Sempat kebingungan dengan buku yang akan dibaca sesuai dengan yang ditantangkan oleh tim RCO. Saya sendiri memang suka membaca banyak jenis buku, termasuk fiksi seperti cerpen dan novel, tapi fiksi seperti apa ya, yang tidak biasa yang belum pernah atau jarang saya baca?
Akhirnya coba mencari ke rak buku punyanya istri tercinta.
Setelah beberapa saat memilah dan memilih judul, sepertinya ada 1 judul buku yang unik: Bidadari-bidadari Bumi yang ditulis Ganda Pekasih.
Sempat bertanya juga ke istri, dari mana dapat buku Bidadari-bidadari Perempuan ini. Katanya beli dari toko buku online yang sering menjual buku-buku lawas.
Yang membuat buku ini di luar zona nyaman buku-buku bacaan saya adalah bukunya berupa kumpulan cerpen feminisme, bahkan di sampulnya saja ditulis jelas kalau buku ini adalah sebuah persembahan untuk perempuan Indonesia. Selanjutnya buku yang akan saya baca dari penerbit By Pass ini adalah terbitan tahun 2012 untuk edisi cetakan pertamanya, which is 14 tahun lalu.
Membaca buku kumpulan cerpen feminisme terbitan lama dengan 15 ragam cerita tentang perempuan setebal 199 halaman, maksimal dalam 1 pekan? Ok, tantangan diterima!
Apa itu Kumpulan Cerpen Feminisme?
Pada dasarnya kumpulan cerpen feminisme adalah kumpulan cerita pendek yang tema intinya berfokus pada perjuangan perempuan untuk mendapat kesetaraan. Karena temanya feminisme, maka tentu saja karakter utama dalam setiap ceritanya adalah sosok perempuan.
Pada umumnya tema cerpen feminisme berpusat seputar hak, kesetaraan, aturan adat yang merugikan, kemiskinan, bahkan kekerasan pada perempuan. Resolusi ceritanya tentang bagaimana perempuan bangkit melawan ketidakadilan, mengejar mimpi dan menuntut kesetaraan.
Cukup berat sepertinya tema ini. Tapi memang menantang juga untuk dibaca tamat dalam 7 hari. So, let's read it!
Dari Ganda Pekasih untuk Perempuan Indonesia
Setelah bulan sebelumnya menamatkaan bacaan Novel Almond dari penulis Korea Sohn Won-Pyung yang mengusung tema Alexitimia, bulan ini lanjut estafet membaca kumpulan cerpen tentang perempuan berjudul Bidadari-bidadari Bumi dari penulis Indonesia, Ganda Pekasih.
Ganda Pekasih merupakan penulis cerpen, novel dan skenario. Karya-karyanya sudah banyak dimuat di majalah yang hit di era tahun 2000-an awal seperti Aneka, Hai, Kawanku, Gadis, dan Femina. Ada yang familiar dengan nama-nama majalah ini? 😎
Ketika buku Bidadari-bidadari Bumi lahir pada tahun 2012 ia sudah menerbitkan 14 buku sebelumnya berupa novel dan kumpulan cerpen. Rata-rata bukunya diterbitkan di penerbit mayor seperti Mizan Group dan Elexmedia Komputindo.
Ganda Pekasih juga dikenal sebagai penulis skenario kenamaan pada masanya. Skenarionya banyak digunakan pada sinetron-sinetron di televisi nasional seperti Rahasia Ilahi di Trans TV yang pernah booming di awal tahun 2000-an.
Di cover buku Bidadari-bidadari Bumi Ganda Pekasih menuliskan bahwa buku ini adalah sebuah persembahan untuk perempuan Indonesia. Bahkan di di halaman awal sebelum daftar isi ia menguatkan persembahannya dalam ungkapan yang manis.
Kalau berpanjang-panjang tentang bidadari-bidadari bumi, rasanya akan beratus-ratus lembar kertas pun tak akan cukup untuk menuliskan kelembutan, cinta dan belaian kasih sayangnya yang luhur
15 Cerita Perempuan dengan Sudut Pandang yang Unik
Dalam Bidadari-bidadari Bumi Ganda Pekasih menyiapkan cerita pendek sebanyak 15. Semua tokoh utamanya tentu saja adalah perempuan.
15 Cerpen dalam Bidadari-bidadari Bumi mempunyai tema yang beragam dan sudut pandang yang unik. Ada tentang seorang ibu, anak perempuan, bahkan waria.
Salah satu kisah menarik dalam buku Bidadari-bidadari bumi adalah cerpen yang berjudul Sebatas Perempuan. Dalam kisah kedua dari 15 cerita ini mengisahkan Nina, seorang gadis, anak pertama dari 3 bersaudara. Saat usianya akan menginjak masa SMA, ia dilamar oleh Kepala Desa yang sudah tua dan beristri banyak. Nina berontak dan kabur dari kampungnya.
Nina menyeburkan diri ke sungai di malam hari. Bukan untuk bunuh diri. Tetapi dia berencana mengikuti arus sungai sampai ke hilir demi tak mau dinikahkan dengan orang yang seharusnya jadi paman atau bahkan kakeknya.
Long Story Short, Nina selamat di hilir sungai dan bertahun kemudian ternyata dia sudah berada di luar negeri. Di negeri jiran. Menjadi TKW.
Nina rindu kepada keluarganya setelah bertahun-tahun tak ada pertemuan. Maka tepat setelah 15 tahun dari kaburnya Nina dari kampung halaman, ia kembali ke sana, ke rumah keluarganya.
Aku akhirnya cepat-cepat berjalan. walaupun tidak kelihatan ada yang berubah dari desa ini, tapi lima belas tahun mustahil tak ada yang berubah di dalamnya, pikirku. Aku terus berjalan dengan koper dan tasku untuk beberapa ratus meter bersama kabut yang mulai turun. (Halaman 33)
Bagaimana keluarga Nina menyambutnya anak sulung mereka?
Kesan setelah Membaca Bidadari-bidadari Bumi
Kisah Nina dalam Sebatas Perempuan hanya satu contoh dari sudut pandang cerita perempuan dalam Bidadari-bidadari Bumi. Masih ada 14 cerita lainnya yang juga unik dan membuat penasaran untuk tak beranjak dari kursi baca.
Terima kasih teman-teman dari Komunitas ODOP yang punya beragam program literasi, termasuk tantangan membaca buku ini. Untuk tim Reading Challenge ODOP juga salut sih punya tantatangan membaca yang unik di setiap pekannya dan yang pasti memotivasi banget untuk mengkonsistensikan diri membaca buku.
Kalau bukan karena tantangan dari RCO, entahlah, apakah saya akan membaca buku kumpulan cerpen feminisme dari Ganda Pekasih ini. Wallahu a'lam. Tapi jadinya bersyukur banget karena ikut program RCO ini dan menerima tantangan membacanya, akhirnya tahu ada buku tentang perjuangan dari sudut pandang perempuan.
Pada akhirnya buku kumpulan cerpen ini jadi pembelajaran bahwa memang laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama pada porsinya masing-masing. Setiap kekurangan yang ada pada diri kita bukan untuk ditelisik dan ditelanjangi menjadi aib, tetapi kita saling lengkapi agar hidup menjadi harmoni.







Posting Komentar
Posting Komentar