Almond: Novel Terjemahan Korea Best Seller tentang Alexitimia

Posting Komentar
Almond: Novel Terjemahan Korea Best Seller

Membaca salah satu novel Korea best seller tentang Alexitimia yang berjudul Almond tak hanya membuat saya menikmati setiap diksinya, tetapi banyak ilmu dan pengetahuan baru di dalam buku setebal 222 halaman ini.

Bagaimana tidak, melalui novel karya Sohn Won-Pyung ini saya pertama kalinya tahu ada suatu kelainan otak yang bernama Alexitimia. Namanya keren, tapi tidak dengan yang dialami pengidapnya.

Sungguh membaca novel Almond ini seperti mengambil mata kuliah kedokteran beberapa SKS dengan cara yang menyenangkan namun juga serasa dramatis mengetahui lebih dalam tentang apa itu Alexitimia.

Sinopsis Novel Almond

Setelah menamatkan buku Kisah Murid Paling Bahagia dari Achi TM, saya melanjutkan dengan memilih salah satu novel terjemahan Korea best seller yang berjudul Almond.

Novel Almond berpusat pada karakter Yoonjae, seorang anak remaja yang mengalami kelainan otak yang disebut Alexitimia, di mana dia tidak bisa merasakan dan atau mengekspresikan apapun emosi seperti manusia pada umumnya. Contoh dari kondisi otak yang mengalami Alexitimia ini adalah pengidapnya tidak akan bisa marah, takut, sedih, bahkan tak bisa merasakan seperti apa rasanya jatuh cinta.

Pada halaman yang menginformasikan bahwa Yoonjae tidak pernah melihat sosok ayah, auto teringat buku tentang ayah yang berjudul Ayah, ini Arahnya Kemana, ya? Tapi di novel Almond beruntung Yoonjae mempunyai sosok ibu kuat yang luas biasa membesarkannya dengan penuh perjuangan dan kasih sayang yang tak kurang.

Ibunya sudah diberitahu dokter tentang kondisi Yoonjae semenjak dia terdeteksi dari kecil. Dokter mengatakan kalau bentuk amigdala dalam otak Yoonjae kecil alias tidak berkembang. 

Tetapi sang ibu tidak menyerah begitu saja. Ia rajin memberikan Yoonjae almond karena ia mempercayai bahwa jenis kacang tersebut bisa membantu pertumbuhan otak anaknya.

Ibu Yoonjae juga memutar otak bagaimana agar anak sematawayangnya tampak 'normal' ketika berinteraksi di sekelilingnya. Ia kemudian membuat catatan-catatan kecil yang kemudian ditempelkan di berbagai sudut rumahnya agar dapat terbaca oleh Yoonjae. Isi catatan tersebut adalah tips dan trik bagaimana harus bersikap ketika bersosialisasi.

Selain sering membaca catatan-catatan yang dibuat ibunya, Yoonjae juga menjadi terbiasa mengonsumsi almond dari ia anak-anak sampai tumbuh menjadi remaja usia SMA. Namun setelah hari berganti bulan dan kemudian berganti tahun, Yoonjae tidak menampakan perubahan yang signifikan dengan Alexitimia yang seperti sudah mendarah daging dalam hidupnya.

novel almond tentang Alexitimia

Bahkan di masa SMA Yoonjae, ia mengalami dinamika kehidupan yang luar biasa karena ia harus berhadapan dengan banyak karakter baru dalam babak kehidupan remajanya. Salah satunya ia bertemu dengan Gon, teman sekelas SMA-nya yang dikenal sebagai anak berandalan dan dianggap kurang bisa mengontrol emosinya oleh orang-orang di sekitar Gon.

Anehnya seiring berjalan waktu Yoonjae malah berteman dengan Gon. Sebuah persahabatan yang jujur terasa janggal. Tapi dari titik inilah mereka saling mengisi dan saling belajar tentang kehidupan remaja yang mereka jalani, sampai akhirnya membawa mereka pada titik yang dramatis.

Dari dua karakter yang seperti langit dan bumi ini kita bisa belajar. Tentang empati dari sisi Yoonjae dan belajar menerima rasa sakit dari sosok Gon.

Seperti apa point of view Yoonjae sebagai seorang penyintas Alexitimia di masa-masa remajanya? Teman-teman harus banget baca novel Almond yang ciamik ini.

Mengenal Alexitimia yang Asing namun Nyata Ada

Jujur saya baru mengenal diksi Alexitimia ketika membaca Novel Almond ini. Serasa sangat asing namun semakin membuat penasaran untuk terus menggali informasi jenis kelainan otak ini.

Penasaran dengan Alexitimia ini, saya mencari informasi di beberapa portal web kesehatan. Menurut informasi di Halodoc, Alexitimia ini tidak termasuk jenis kelainan otak yang langka, karena diperkirakan diidap oleh lebih kurang 10% polulasi umum. Agak kaget juga sih ketika membaca fakta ini.

Setelah membaca Novel Almond juga terasa pelajaran yang bisa dipetik, tentang pentingnya memiliki rasa peka dan juga empati terhadap lingkungan sekitar. Ketika kita menghadapi dinamika hidup, ada orang lain juga yang mungkin sedang menghadapi perjuangan untuk belajar memahami emosinya dan mencari makna hidup yang dijalaninya.

Lebih detail, dari Novel Almond kita bisa belajar untuk memahami bagaimana jika di sekitar kita ada orang yang tak bisa merasakan cinta, marah, bahkan sedih. Pastinya berat menurut kita menjadi sosok yang 'kosong' secara emosi, di mana semua momen hidup terasa datar saja.

Kesan Mendalam Setelah Membaca Novel Almond

Novel Terjemahan Korea

Beberapa saat setelah menamatkan novel Almond diri ini sempat tertegun beberapa saat karena merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati. Benarkah ada orang seperti Yoonjae di dunia ini? Bagaimana rasanya menjadi penyintas Alexitimia? 😢

Ah, Sohn Won-Pyung terlalu pintar memilih tema dan membuat perasaan menjadi campur aduk setelah menamatkan salah satu novel terjemahan Korea best seller ini.

Sisi lain setelah membaca buku terbitan Grasindo ini adalah rasa syukur tak terkira karena kita diberi ragam ekspresi yang membuat kita menjadi manusia 'normal'. Sampai pada titik bahwa merasakan kesedihan itu lebih baik daripada tidak merasakannya sama sekali.

Ada kalanya sesuatu terjadi dan membuat kita merasa sakit dan emosi, tapi setidaknya itu bukti bahwa kita hidup.

Saya membayangkan kalau novel Almond ini diangkat menjadi film atau drama seri. Mungkinkah bisa sesukses Pachinko yang sama-sama diangkat dari sebuah novel? Siapa juga aktor yang kira-kita cocok memerankan karakter penyintas Alexitimia seperti sosok Yoonjae?

Teman-teman yang suka dengan buku yang mempunyai sisipan sisi psikologi dengan bahasa yang ringan namun makna yang mendalam, novel Almond ini bisa jadi salah satu rekomendasi yang cocok. Buku ini bukan tipe yang membuat kita menangis kejer, tetapi lebih ke merenungi eksistensi diri dan kepekaan terhadap apa-apa yang terjadi di sekitar kita.

Ada rekan yang sudah selesai duluan membaca Almond dan merasa kalau konflik akhir dalam novel ini terlalu cepat. Kalau menurut saya sendiri memang novel ini bukan tipe yang memberikan ending yang wah, walau tetap dramatis, tetapi lebih ke setiap paragraf dengan tulisan yang mendalam sedari awal, sehingga bisa membuat kita menarik napas perlahan di setiap halaman untuk merenungi setiap diksi yang dibaca.

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar