Kajian di Masjid Nabawi dalam Bahasa Indonesia bersama Ustadz Ariful Bahri

Posting Komentar
Kajian di Masjid Nabawi bersama Ustadz Ariful Bahri

Saat melaksanakan umroh Syawal kemarin tour leader dari travel umroh memberi tahu di grup WA kalau di Masjid Nabawi itu ada kajian dalam Bahasa Indonesia setiap setelah Maghrib sampai datang waktu salat Isya. Kajiannya dibawakan oleh seorang ustadz dari Indonesia bernama Ariful Bahri dan lokasinya di area Masjid Nabawi antara pintu 19 dan 20.

Wah, penasaran dan tertarik sekali untuk ikut kajian ini. Teman-teman sekamar diajak juga buat hadir dan alhamdulillah mereka juga mau. Jadilah kita berempat berangkat sebelum maghrib ke Masjid Nabawi, mencari pintu 19 untuk ikut kajian bersama Ustadz Ariful Bahri.

Taman Ilmu di Masjid Nabawi Madinah

Setibanya di pelataran Masjid Nabawi, kita langsung mencari pintu 19 atau 20. Tak sulit mencari pintu 19 atau 20, karena hotel kita memang ada di bagian timur masjid sehingga langsung bisa langsung ke bagian pelataran dengan jajaran nomor ini.

Ketika masuk ke dalam masjid, lumayan bingung juga di sebelah mana kajian Ustadz Ariful Bahri ini. Akhirnya kita duduk itikaf saja dulu sembari menunggu datangnya waktu salat maghrib. Sembari duduk, mata menelisik sekeliling masjid. Ternyata di setiap sudut dan tiang masjid ini ada banyak kajian dan pengajian, mulai dari anak-anak sampai dewasa.

Kajian di Masjid Nabawi Madinah

Yang anak-anak rata-rata pengajian Qur'an. Sebagian yang dewasa pun sama. MasyaAllah, ini benar-benar taman ilmu yang indah. Kanan kiri penuh dengan orang-orang yang sedang belajar agama. Setenang dan senyaman itu memang Masjid Nabawi ini.

Adzan maghrib berkumandang, lanjut salat berjamaah, salat mayat dan berdzikir masing-masing. Setelah itu pengajian Qur'an dan kajian agama dilanjutkan. Mata kita terus mencari di mana sudut kajian Ustadz Ariful Bahri di antara banyaknya kumpulan kajian di setiap sudut dan tiang masjid.

Ketika mata kita terus menelisik, terlihat kumpulan orang-orang yang familiar. Beberapa di antara mereka memakai sarung dan batik. Ah, sepertinya ini jamaah Indonesia. Kita mendekat, dan benar saja, ternyata ini tempat kajian agama bersama Ustadz Ariful Bahri yang kita cari-cari.

Kita mendekat dan segera bergabung mengikuti kajian. Serasa mimpi. Pertama kalinya di Masjid Nabawi mengikuti kajian keagamaan dengan seorang pengajar yang berasal dari Indonesia. Alhamdulillah.

Sembari mengikuti kajian, mata ini kadang masih melirik kanan kiri, melihat kajian-kajian lainnya. Di momen itu baru tersadar, sepertinya kajian bersama Ustadz Ariful Bahri ini paling banyak sekali jamaahnya. Bahkan tak hanya dari jamaah asal Indonesia, beberapa di antaranya dari saudara-saudara jamaah asal Malaysia (tampak dari kalung penanda umroh).

Mengenal Lebih Dekat dengan Ustadz Ariful Bahri

Ustadz Ariful Bahri

Meringkas informasi dari Wikipedia diketahui bahwa Ustadz Ariful Bahri adalah sosok ulama kelahiran Indonesia, tepatnya beliau lahir di Air Tiris, Kampar, Riau. Pantas saja bahasa melayu beliau masih sangat kental ketika menyampaikan kajiannya di Masjid Nabawi dan menjadi tak heran kenapa banyak jamaah dari Malaysia yang ikut kajian juga, karena mudah dipahaminya bahasa yang beliau gunakan dalam berdakwah.

Ustadz Ariful Bahri diberi amanah untuk memberi kajian Islam di Masjid Nabawi mulai tahun 2019. Beliau sendiri adalah ulama lulusan dari Universitas Islam Madinah mulai dari S1 sampai S3.

Disebutkan saat madrasah aliyah ia sudah hafal Qur'an dan oleh yayasan tempatnya belajar dihadiahi umroh. Sewaktu umroh ini Ariful Bahri muda sekalian mendaftar kuliah di Universitas Islam Madinah dan diterima.

Universitas Islam Madinah bekerjasama dengan pengelola Masjid Nabawi untuk menyalurkan mahasiswa-mahasiswa berprestasinya untuk mengisi kajian di Masjid Nabawi. Satu di antara mahasiswa terpilih tersebut adalah sosok Ariful Bahri.

Maka dari 2019 ia mulai diberi amanah untuk mengisi kajian dengan Bahasa Indonesia di area Masjid Nabawi di sekitar pintu 19, menggantikan ulama sebelumnya yang juga berasal dari Indonesia, Ustadz Firanda Andirja.

Isi kajian Ustadz Ariful Bahri

Sangat suka sekali dengan tutur kata khas Ustadz Ariful Bahri ini, terutama dengan logat dan atau dialek melayu nya. Indah sekali mendengarkan Bahasa Indonesia bergema di Masjid Nabawi dari sosok ulama yang teruji kapabilitas nya seperti beliau.

Waktu mengikuti kajiannya Ustadz Ariful Bahri membahas seberapa rasa cinta kita kepada Rasulullah. Ia menuturkan agar kita muhasabah atau evaluasi diri kita sendiri tentang tolak ukur rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw.

Beliau mencontohkan, ketika umroh, apakah kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah atau hal-hal lain yang tak berelasi. Lebih spesifik beliau menguatkan, apakah selama di Madinah jamaah umroh lebih banyak belanja dari pada i'tikaf di Masjid Nabawi. Beliau juga bertanya kepada semua jamaah, sudah berapa juz Quran yang diaji selama umroh, atau belum sama sekali.

Tutur katanya yang lembut namun tegas langsung terasa ke hati. Benar-benar reminding agar kita benar-benar meluruskan niat kembali dengan tujuan datang ke tanah suci, jangan sampai terdistraksi.

Tak terasa kajian harus dihentikan karena adzan Isya akan segera dikumandangkan. Maka segera Ustadz Ariful Bahri menutup acara kajian.

Ketika Ustadz Ariful bahri beranjak dari kursinya, para jamaah mendekati dan menyalaminya. Terlihat beliau dengan ramah menyambut jabatan tangan para jamaah dan berinteraksi sebentar sebelum bersiap-siap untuk melaksanakan salat Isya berjamaah.

Kesan Mengikuti kajian Ustadz Ariful Bahri

kajian Ustadz Ariful Bahri di Masjid nabawi

Bersyukur sekali mendapatkan travel umroh yang sangat informatif tentang Mekah dan Madinah. Sebelumnya sewaktu di Mekah pun tour leader sempat menginformasikan tentang keharus waspadaan kita dengan scam di sekitar Masjidil Haram, pun dengan info-info seputar Masjid Nabawi di Madinah selalu diinformasikan, termasuk kajian Bahasa Indonesia di Masjid Nabawi bersama Ustadz Ariful Bahri Ini.

Mekah dan Madinah memang mempesona. Keduanya mempunyai vibe yang berbeda, namun tetap menarik perhatian.

Mekah adalah simbol kota perjuangan Nabi dan itu terasa sampai saat ini. Madinah dengan Masjid Nabawi sebagai ikon utamanya bernuansa tenang dan nyaman.

Begitulah terasa hari-hari di Masjid Nabawi. Setiap sudut tiang masjidnya adalah taman-taman ilmu. Ada banyak anak-anak yang antusias setiap harinya belajar Qur'an. Pun dengan para remaja sampai dewasa, semuanya bisa menuntut ilmu di sini karena pengelola Masjid Nabawi menyiapkan banyak referensi ulama dengan berbagai bahasa dan berbagai disiplin keilmuan.

Rasanya ingin setiap hari mendengarkan petuah dari Ustadz Ariful Bahri di Masjid Nabawi. Apa daya waktu kami ziarah di Madinah di batasi, karena sepekan merasakan kenyamanan di sini harus ikhlas berhenti dengan informasi jadwal kepulangan ke tanah air.

Mudah-mudahan suatu saat bisa kembali ke Mekah dan Madinah, baik untuk umroh maupun haji. Terlebih hari ini bertepatan dengan Hari Arafah, mari merapalkan doa sebanyak-banyaknya, setepatnya, dan meyakininya akan diijabah oleh Allah Swt yang Maha Kaya.

Related Posts

Posting Komentar