Akhir pekan ini acara keluarga kami diisi dengan family date ke perpustakaan, dilanjut jalan-jalan kulineran. Kenapa ke perpustakaan dulu? Karena memang di Perpustakaan Kabupaten Sukabumi ada acara Cerdas Literasi Digital untuk usia TK dan SD.
Acara Cerdas Literasi Digital sendiri adalah program playdate anak hasil kolaborasi Komunitas Sukabumi Read Aloud dan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sukabumi. Tujuan diadakannya acara ini agar anak mengenal dunia digital dengan cara yang seru, aman dan bermanfaat.
Nah, sementara anak-anak mengikuti acara Cerdas Literasi Digital di ruang audio visual perpustakaan, saya menunggu mereka di ruang baca sambil membaca buku. Buku yang dibaca adalah karya Achi TM yang berjudul Kisah Murid Paling Bahagia
Kisah Murid Paling Bahagia dan 11 Sebelas Kisah Lainnya
Saat datang ke perpustakaan kemudian menemukan buku yang kita suka, rasanya betah banget mojok menghabiskan waktu membaca diksi-diksi indah lembar demi lembarnya. Terakhir saat ke perpustakaan dengan nyamannya itu waktu membaca buku Ayah, ini Arahnya ke Mana, ya? yang mana ceritanya baru diangkat ke layar lebar juga.
Saat sekarang kembali ke Perpustakaan Kabupaten Sukabumi dan melihat deretan judul buku di rak perpustakaan, jiwa pengajar ini langsung tertarik dengan judul buku Kisah Murid Paling Bahagia. Ya, sebegitu berpengaruhnya sebuah judul buku yang bisa membuat kita jatuh cinta at the first sight. Setelah diambil dan ditelisik, di bawah judul besarnya ada judul tambahan dan sebelas kisah lainnya. Ini berarti ada 12 cerita di dalam buku ini.
Data Buku
Sebelum lebih jauh membahas buku Kisah Murid Paling Bahagia, yuk kenalan dulu dengan identitas bukunya.
Judul: Kisah Murid Paling Bahagia dan Sebelas Kisah LainnyaPenulis: Achi TM
Penerbit: Emir/Erlangga, 2018
ISBN: 978-602-0935-71-3
Jumlah Halaman: 112 halaman
Sekilas tentang Achi TM
Di bagian penghujung buku ada halaman Tentang Penulis yang mengenalkan kita lebih dekat dengan Achi TM. Dituliskan di halaman penutup itu kalau Achi TM adalah seorang ibu dari seorang putra yang telah malang melintang di dunia kepenulisan.
Achi TM sudah banyak menulis buku fiksi maupun non fiksi dan diterbitkan di berbagai perusahaan penerbitan. Bahkan salah satu novelnya yang berjudul Insya Allah, Sah! sudah diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi MD Entertainment.
Achi TM pun tak ingin maju dan berkembang sendiri. Ia ingin regenerasi para penulis tidak putus, makanya ia mendirikan RUMAH PENA, sebuah lembaga pengembangan talenta yang ia kelola bersama suaminya Agung Argopo.
Sinopsis Kisah Murid Paling Bahagia
Cerita utama dalam Kisah Murid Paling Bahagia berpusat pada sosok Galang, murid SMA yang dijuluki mister smile oleh teman-temannya. Bayangkan, selama dua tahun sekelas, Galang tidak pernah kelihatan murung oleh teman-temannya. Bahkan saat mukanya kena bola basket sampai mimisan, dia tetap tersenyum dan mengucap “Alhamdulillah”.
Aneh? Justru itu yang bikin semua orang penasaran. Karin, salah satu tokoh di buku ini, sampai rela bertanya ke banyak orang tentang rahasia Galang. Dan jawabannya selalu sama: Galang memang murid paling bahagia.
Sekilas kisah Galang ini cuma satu dari 12 cerita inspiratif di dalam buku ini. Setiap ceritanya dipadukan dengan kisah hikmah para cendekiawan muslim zaman dulu, jadi nuansa religinya terasa kuat tapi tidak menggurui.
Kenapa Buku ini Layak Dibaca?
Ada beberapa alasan yang membuat buku Kisah Murid paling Bahagia dan Sebelas Kisah Lainnya ini layak dibaca oleh kita.
Bahasa yang Mudah Dipahami
Achi TM menulis dengan gaya bahasa sehari-hari anak remaja. Tidak kaku, tidak kebanyakan istilah berat. Jadi enak dibaca sambil rebahan atau nunggu jam kosong.
Walaupun ditulis dengan gaya bahasa anak remaja kekinian, saya sendiri sebagai generasi milenial tak sulit untuk memahaminya. Ini karena memang penulis buku ini membuat bahasanya lebih sederhana dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan usia.
Ada Pesan Tersirat dan Tersurat di Setiap Ceritanya
Pesan-pesan Islam disampaikan lewat alur cerita, bukan ceramah. Misalnya soal syukur, sabar, dan cara memandang masalah. Cocok buat remaja yang lagi fase mencari jati diri.
Yang unik dalam buku Kisah Murid paling Bahagia ini adalah merelasikan kisah-kisah pada zaman dahulu yang mengandung hikmah dengan realitas kehidupan remaja saat ini. Cara mengoneksikannya cukup apik sehingga tak ada kesan menggurui sama sekali kepada kita sebagai pembaca.
Cocok untuk Mendukung Gerakan Literasi
Buku ini memang dirancang untuk mendukung program 15 menit membaca di sekolah. Satu cerita bisa selesai dalam sekali duduk, jadi tidak akan membuat bosan.
Untuk yang hobi membaca, sepertinya buku ini juga bisa selesai dalam sekali duduk. Kenapa? Karena kalau dilihat dari jumlah halaman, totalnya ada 112 halaman yang mana tak terlalu tebal, tapi juga tak terlalu tipis. Ya, termasuk ukuran sedang lah.
Simpulan
Kalau teman-teman sedang mencari bacaan ringan tapi ngena buat remaja, buku Kisah Murid Paling Bahagia karya Achi TM ini layak masuk reading list. Terbit tahun 2018 oleh Penerbit Erlangga, buku setebal 112 halaman ini bukan sekadar kumpulan cerpen biasa. Ia masuk dalam Seri Cerita Remaja Islami yang dikemas khusus untuk gerakan literasi sekolah.
Walaupun buku Kisah Murid Paling Bahagia sepertinya pas banget buat pelajar SMP-SMA yang butuh bacaan motivasi Islami, Guru BK atau wali kelas pun cocok untuk membacanya, apalagi para guru yang sedang cari bahan literasi untuk murid. Orang tua yang ingin mengenalkan nilai-nilai agama ke anak dengan cara menyenangkan pun sangat bagus untuk memiliki buku ini.
Kalau teman-teman suka novel dengan plot rumit dan karakter development yang dalam, mungkin buku ini terasa terlalu sederhana. Tapi justru itu poinnya: bacaan pemantik, bukan bacaan berat.
Jadi yang perlu kita pahami bahwa target awal buku ini adalah remaja, sehingga konflik dalam cerita Kisah Murid paling Bahagia cenderung ringan dan penyelesaiannya cepat.
Dengan cerita ringan dan isi yang penuh hikmah, buku ini layak buat koleksi perpustakaan pribadi atau sekolah. Mudah-mudahan setelah membaca buku ini kita bisa belajar dari sosok setenang Galang yang memiliki perspektif bahwa bahagia itu seringkali soal cara kita merespons keadaan, bukan keadaannya sendiri.





Posting Komentar
Posting Komentar