Urgensi Mengembangkan Kesehatan Mental Siswa

6 komentar
review buku mengembangkan kesehatan mental siswa

Akhir-akhir ini kata 'mental' sedang sangat sering kita dengar dan lihat di banyak up date status media sosial, baik yang serius maupun bernada canda. Melihat fenomena tentang kesehatan mental ini, sebagai seorang pengajar yang berinteraksi dengan anak-anak pada rentang usia 12-18 tahun, sangatlah mendesak pihak-pihak terkait, dalam hal ini pemerintah, orang tua, dan pihak sekolah yang direpresentasikan oleh Bimbingan dan Konseling (BK) untuk mengembangkan kesehatan mental siswa.

Urgensi Mengembangkan Kesehatan Mental Siswa Menuju Kesejahteraan Mental

Indonesia yang  mempunyai 40% populasi pada usia anak sekolah dan remaja merupakan potensi sumber daya yang luar biasa. Namun di luar itu, banyak PR yang harus diperbaiki dalam permasalahan anak usia sekolah dan remaja. Salah satu masalah yang urgen adalah tentang kesehatan mental siswa.

Setelah membaca buku 'Mengembangkan Kesehatan Mental Siswa' yang ditulis oleh Yuli Fajar Susetyo, makin tersadarkan bahwa masalah kesehatan mental siswa ini bukan hal receh, apalagi dianggap remeh. 

Indonesia saat ini sedang pada fase darurat kekerasan di sekolah, yang salah satunya otomatis akan berdampak kepada kesehatan mental anak didik kita. Banyak media yang memberitakan betapa mirisnya kehidupan-kehidupan para siswa kita yang berhubungan dengan mental, bahkan berakhir dengan bunuh diri.

Salah satu kasus yang berkaitan dengan kesehatan mental siswa adalah berita tentang bunuh dirinya seorang siswa SMP di Depok pada tahun 2013 karena takut tidak lulus Ujian Nasional (UN). Dari kasus tersebut kita belajar, bahwa kekerasan di sekolah bukan selalu tentang kekerasan fisik, namun juga kekerasan verbal, bahkan sistem pendidikan kita yang membuat sebagian anak tidak kuat.

Menurut WHO, kesehatan mental sendiri adalah keadaan sejahtera dalam setiap individu untuk memaksimalkan potensi, mampu mengatasi permasalahan dalam hidup, bekerja secara produktif dan berhasil, dan mampu berkontribusi kepada orang lain. Dari definisi tersebut, maka sekolah sebagai salah satu pihak yang  bertanggung jawab akan tumbuh kembangnya anak didik, sejatinya memperhatikan betul kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi agar kesehatan mental setiap anak didiknya dapat sehat dan berkembang.

Dari buku 'Mengembangkan Kesehatan Mental Siswa' yang merupakan hasil penelitian Universitas Gajah Mada (UGM) Divisi Epidomologi Kesehatan Mental Anak dan Remaja ini, dapat disimpulkan bahwa ada 4 pilar untuk menyusun kesehatan mental siswa, yaitu:

kesehatan mental siswa

1. Kesejahteraan Subjek (Subjective well-being)

Yang dimaksud dengan kesejahteraan subjek di sini adalah jelas kesejahteraan mental siswa itu sendiri, di mana siswa mempunyai nilai positif dalam hidupnya yang meliputi pengalaman hidup yang berhubungan dengan kesehatan raganya, kenyamanan, dan kemakmuran yang dirasakan oleh siswa.

Hal-hal yang bisa dilakukan pihak sekolah untuk mengembangkan subjective well being siswa dapat dilakukan dengan:

Memberikan pengalaman peristiwa yang positif dan menyenangkan bagi siswa

Kerja sama seluruh keluarga besar sekolah untuk menciptakan sekolah atau madrasah ramah anak harus serius digalakkan. Kerja sama guru, orang tua, dan siswa untuk menciptakan sekolah sebagai tempat yang nyaman untuk belajar dan berinteraksi jangan hanya menjadi slogan, tetapi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Menanamkan nilai-nilai religiusitas kepada siswa 

Saatnya menjadikan pendidikan agama tidak hanya sebatas teori belaka, namun menjadi landasan kuat bagi siswa untuk memahami dasar-dasar teologis tentang filosofi hidup yang bahagia dalam jangka panjang, dunia dan akhirat

2. Efikasi Diri

Efikasi diri adalah besarnya kepercayaan individu terhadap dirinya dan kemampuannya untuk sukses dalam performa dan perilaku yang spesifik. So, it's all about student's confidence.

Pihak Bimbingan Konseling (BK) sebagai refresentasi dari sekolah atau madrasah, harus bisa menjadi jembatan dalam mendata segala hal yang menjadi kelebihan dan hal-hal yang menjadikan siswa meras tidak percaya diri terhadap potensi yang dimilikinya. Dari data konseling, guru yang ditugasi BK dapat bekerja sama dengan wali kelas dan juga orang tua, agar anak terbebaskan dari rasa minder dan akhirnya menjadi sosok yang percaya bisa berkembang untuk menjadikan setiap potensi yang dimilikinya sebagai langkah untuk meraih kesuksesan.

3. Penyesuaian Diri

Ketika siswa masuk sekolah barunya pada awal tahun pelajaran di setiap tingkatan, pasti butuh masa untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Maka, pihak sekolah harus sigap dalam membantu kebutuhan ini. Ajang masa orientasi sekolah pada awal tahun harus menjadi gerbang awal agar siswa baru dapat merasakan kenyamanan dan kekeluargaan di sebuah sekolah atau madrasah, bukan sebaliknya.

Efek dari bentuk penyesuaian diri di awal dapat berlanjut ke penyesuaian diri akademik. Sebaliknya, jika siswa merasa tak dapat merasakan kenyamanan dan kekeluargaan, bahkan yang didapatkan kekerasan dan bullying, maka sangat kecil kemungkinan siswa dapat meraih prestasi akademik yang mumpuni karena kegagalan penyesuaian diri akademiknya. 

4. Strategi Koping

Koping merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seorang individu untuk mengelola kemampuan diri dalam menghadapi tantangan hidup. Hal-hal yang termasuk kemampuan diri tersebut meliputi pengelolaan fisik dan emosional.

Untuk mengembangkan kesehatan mental siswa dalam hal kemampuan dirinya dalam menjalani hidup, ada beberapa hal yang dapat membantunya, seperti:

  • Dukungan sosial; baik sekolah, keluarga, maupun lingkungan keseharian siswa
  • Kedekatan dengan figur yang lekat, seperti guru, teman, dan juga orang tua
  • Kepribadian siswa itu sendiri

Penutup

Siswa menghabiskan banyak waktu di sekolah, sehingga pantaslah jika sekolah menjadi rumah keduanya dan mendapatkan rasa nyaman untuk tumbuh dan berkembang di dalamnya. Pengalaman positif selama berinteraksi di sekolah atau madrasah dengan para guru dan teman akan menjadi pengalaman yang melekat pada siswa.

Untuk menciptakan pengalaman positif dari setiap siswa, sekolah harus mempersiapkan segala perangkat dan sistem yang baik untuk menjadi sekolah atau madrasah yang ramah anak. Dengan kesan yang baik selama berada di lingkungan sekolah, berarti sekolah sudah melaksanakan kewajibannya untuk membantu siswa dalam mengembangkan kesehatan mental siswa.

Referensi: 
Buku 'Mengembangkan Kesehatan Mental Siswa'
Penulis : Yuli Fajar Susetyo, dkk
Penerbit : Graha Cendekia dan Fakultas Psikologi UGM
Cetakan Ke-2: Juni 2016

#RCO9
#OneDayOnePost
#ReadingChallengeODOP9


Yonal Regen
a Father of four, Educator and Author of Narasi Ayah Guru

Related Posts

6 komentar

  1. Menarik sekali oembahasan tentang kesehatan mental siswa smoga kedepannya para siswa bisa menjadi pandai dalam akademis juga pandai dalam mengelola emosi,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Allahumma aamiin, Sepakat kak Setyo

      Hapus
  2. Kesehatan mental siswa ini memang perlu perhatian lebih dari sekolah. Karena banyak sekolah yang masih belum maksimal menangani hal ini. Terbukti dengan banyaknya kejadian yang kurang mengenakan seperti uraian di atas.
    Yah, semoga saja pendidikan di Indonesia bisa lebih mengakomodasi kesehatan mental siswa ya.

    BalasHapus
  3. Semoga dunia pendidikan kita lebih peduli mengenai hal-hal ini dari pada prestasi yang cuma buat gengsi.

    BalasHapus
  4. Hal yang dapat membantu kesehatan mental siswa seperti dukungan sosial, kedekatan dengan figur yang lekat, dan
    kepribadian siswa itu sendiri rasa-rasanya masih cocok dan juga dibutuhkan untuk mahasiswa yang baru menginjak dewasa muda, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul teh Ulfah, Sekelas mahasiswa juga sama, butuh perhatian dalam hal mengembangkan kesehatan mentalnya.

      Hapus

Posting Komentar

Follow by Email