BLANTERWISDOM101

Jatuhnya Korban Pembelajaran on Line

Sabtu, 19 September 2020

Kabar mengejutkan tersiar ketika anak kelas satu sekolah dasar yang dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri pada Rabu (26/08/2020) di Larangan, Kota Tangerang. Perihal pembunuhan ini diakibatkan karena kesalnya sang ibu dalam mendampingi anaknya belajar on line. Korban yang juga mempunyai adik kembar ini kematiannya disembunyikan oleh kedua orang tuanya, sehingga oleh ayahnya, mayat korban dikuburkan di Lebak Banten, jauh dari tempat tinggalnya, dan masih lengkap dengan baju yang terakhir dikenakan.

Kasus terkuak ketika petugas pemakaman menemukan gundukan tanah mirip makam, namun yang ia tahu, tidak ada pemakan dalam waktu seminggu kebelakang. akhirnya makam dibongkar, dan diketemukanlah sesosok mayat gadis berusia delapan tahun lengkap dengan baju yang ia kenakan, tanpa kain kapan.

Pembelajaran on line yang sudah berlangsung lebih kurang enam bulan ini bak buah simalakama, para siswa yang sudah mengalami kebosanan berhadapan dengan layar monitor, dan orang tua yang mulai kewalahan dalam mendampingi anak-anak mereka dalam belajar. Tapi ketika regulasi untuk pembelajaran tatap muka dikeluarkan oleh Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem, dan beberapa sekolah memulai uji coba pembelajaran di kelas, hasilnya adalah terbentuknya cluster-cluster covid baru, yaitu cluster sekolah. Seperti kasus terjangkitnya 300 lebih guru oleh corona di Surabaya kurang dari dua minggu semenjak dimulainya uji coba pembelajaran tatap muka. Akhirnya, beberapa sekolah kembali mundur dari rencana pembelajaran tatap muka, dan kembali pada pembelajaran on line.

Orang tua yang menjadi guru mendadak, tentu butuh waktu beradaptasi untuk mendampingi sang buah hati belajar di rumah. Butuh modal besar dalam pembelajaran on line ini, selain tentunya kuota untuk gawai. Hal lain yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah bahwa mengajar itu tidak mudah!, sehingga kita bisa lebih respect terhadap profesi guru. Dengan pemahaman bahwa mengajar itu tidak mudah, terlebih jika orang tua tidak mempunyai latar belakang di dunia pendidikan, maka yang harus dimiliki oleh orang tua adalah luasnya hati –seluas-luasnya- untuk menyimpan kapasitas sabar yang tiada batas.

Tak mudah memang menjaga kewarasan dalam mendampingi anak kita belajar, terlebih jika tugas itu dipegang oleh sang ibu yang juga masih harus mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga lainnya. Maka, kerja sama yang baik dengan sang suami sebagai kepala keluarga mutlak diperlukan. Seyogianya sosok ayah harus berbagi peran dalam rumah tangga dengan sang istri, agar anak tetap mendapatkan hak pendampingan pembelajarannya.

Anak adalah amanah. Ia bisa jadi anugerah, bahkan ujian bagi setiap orang tua. Ia bisa membawa ayah ibunya ke surga, bahkan menjerumuskannya ke neraka. Tentu sebagai orang tua kita berharap yang terbaik. Maka kebaikan itu harus dimulai dari orang tua itu sendiri: menjaga kewarasan berpikir, dan ridho dengan apapun kondisi anak yang Allah titipkan kepada kita. Dengan demikian, mudah-mudahan keridhoan pun akan kita dapatkan dari Sang Pencipta Kita. Karena sebagai muslim, keridhoan Ilahi adalah kunci hidup kita agar tetap selaras dunia dan akhirat kelak.

Semoga tidak ada lagi korban yang jatuh akibat orang tua yang stress dengan pendampingan belajar on line, dan mari kita belajar menjadi sosok ayah ibu yang dapat bekerja sama demi hak pendidikan buah hati kita. Terakhir, tetap jaga protokol kesehatan seraya menguatkan doa, semoga korona ini segera tiada.

Share This :
Yonal Regen

Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

2 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak komentar. Semoga bermanfaat. Salam

  1. Sepertinya orang tua si korban terganggu jiwanya. Hanya karena masalah anak kesulitan dalam belajar jadi disiksa dan tewas. Ketika sudah ditangkap pun, bukan penyesalan yang terlihat melainkan masih ada kekesalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. penting banget menjaga kewarasan ya kak ren

      Hapus