Belajar Dan Mengajarkan Al-Qur'an

2 komentar

  Tak salah jika Ramadhan disebut sebagai bulan mulia dan penuh keberkahan, hal ini terkait dengan beberapa momen yang membentuk peradaban dalam sejarah kehidupan dan da’wah nabi Muhammad SAW. Salah satu peristiwa yang tercatat adalah Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, atau masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Nuzulul Qur’an.
Terkait dengan sejarah tersebut, terdapat beberapa persamaan pendapat para ulama. Namun adapula beberapa poin khilafiyah atau perbedaan pendapat didalamnya. Hal yang disepakati adalah tentang hari senin pada bulan Ramadhan sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an. Sedangkan yang menjadi perbedaan pendapat para ulama adalah tentang hari senin tanggal ke berapa peritiwa tersebut terjadi.
Setidaknya ada lima pendapat tentang tanggal diturunkan pertama kali ayat satu sampai lima surat al-‘alaq ini, di Indonesia sendiri mayoritas meyakini tanggal tujuh belas Ramadhan sebagai Nuzulul Qur’an ini, hal ini berdasarkan keterangan Imam Ibnu Katsir dalam kitab Al-bidayah wan nihayah. Ulama lain berpendapat berbeda, beberapa meyakini tanggal 18, 19, 21 dan 24.
Diluar pemahaman yang berbeda tentang masalah tanggal diturunkannya Al-Qur’an, para ulama tidak pernah menjadikan hal tersebut ke ranah perselisihan yang menyebabkan keretakan dalam menjalani aktivitas keagamaan. Bahkan yang menjadi lebih esensial adalah bagaimana kita mencontoh para ulama sebagai pewaris ilmu para nabi dalam berinteraksi dengan Al-qur’an itu sendiri.
Ragam cara bisa  dilaksanakan untuk menjadikan Al-Qur’an lebih dekat dalam kehidupan kita, mengkaji Al-Quran dari segi cara pembacaan, ilmu tajwid, makhorijul huruf, dan tafsir bisa menjadi pilihan ideal. Tahapan selanjutnya yang juga krusial adalah mengamalkan ilmu Al-Qur’an yang dimiliki.
Mengajarkan Al-Qur'an tidak harus selalu menjadi sosok guru mengaji seperti ustadz atau ustadzah yang secara formal mengajar di Mushola atau Masjid, tapi bisa  dilaksanakan dengan kadar dan ruang lingkup kehidupan sehari-hari. Sang suami yang mengajari istri, orang tua yang membersamai anak-anaknya, atau sebagai kakak yang membimbing adik-adiknya.
Mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an ibarat dua sisi koin yang tidak terpisahkan, karena dengan mengamalkan ilmu,  suatu saat kita akan merasa kekurangan materi, sehingga termotivasi untuk terus belajar. Maka pantaslah Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Yonal Regen
Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar