a journey

Efek Panjang Covid-19

14 komentar
Dampak panjang Covid-19

Setelah dinyatakan positif terpapar Covid-19 pada bulan Juli lalu, Alhamdulillah Allah masih memberikan kesehatan dan umur panjang setelah isolasi mandiri selama kurang lebih dua minggu di rumah. Dua minggu yang luar biasa dengan segala gejala yang dirasakan, mulai dari flu berat, batuk, nyeri persendian, sampai hilangnya indra penciuman dan perasa.

Setelah dinyatakan negatif, rasa syukur membuncah di hati, akhirnya terbebas dari Covid-19. Namun, Tenaga Kesehatan yang memeriksa sewaktu di swab mengingatkan bahwa Covid-19 mempunyai efek jangka panjang untuk beberapa orang dengan kondisi tertentu. Kita diminta untuk tidak kaget dan heran, yang walaupun sudah dinyatakan negatif masih mengalami beberapa gejala akibat dari efek panjang Covid-19.

Dampak Jangka Panjang Covid-19 dan Pencegahannya.

Kata-kata dari Nakes yang mengingatkan tentang dampak atau efek jangka panjang dari Covid-19 terngiang-ngiang dan menjadi pengingat agar lebih hati-hati dalam menjaga kesehatan, dan benar saja, beberapa gejala kembali dirasakan setelah beberapa waktu dengan kondisi berbeda-beda antara saya, istri, dan ibu mertua yang sama-sama pernah terpapar Covid-19.

Gejala Yang Dirasakan Dari Dampak Panjang Covid-19 

Gejala jangka panjang atau yang sering disebut post-acute COVID-19 syndrome ini dirasakan oleh saya dan keluarga. Beberapa gejala yang saya dan beberapa anggota keluarga rasakan setelah dinyatakan negatif Covid-19, diantaranya adalah:

Batuk

Saya paling sering mengalami batuk di rumah, jika kondisi sedang dingin, apalagi pada malam hari. Tenggorokan kering pun sering berujung batuk pula, apalagi memang hobi mengonsumsi gorengan seperti bakwan sulit dihindari, awalnya merasa sudah sembuh, tapi eh, batuknya luar biasa terasa.

Batuk juga sering terjadi selepas mengajar. Dengan dibukanya kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM), menyebabkan produksi suara yang keluar menjadi lebih keras yang harus terdengar sekelas. Alhasil, jika lupa membawa minum ke kelas, tenggorokan menjadi kering, dan jadilah batuk 

Penciuman dan Perasa Yang Kurang Peka

Walau tidak 100% hilang, tetapi rasanya anosmia ini belum hilang sepenuhnya setelah dinyatakan negatif. Butuh waktu bertahap untuk kembali membau dengan sempurna. Kalau seperti ini, baru terasa benar nikmat Allah dengan indra penciuman dan perasa yang luar biasa ini.

Kurangnya Konsentrasi

Kurangnya konsentrasi dalam segala hal sering dialami oleh istri. Selain memang pusingnya mengatur jadwal pembelajaran on line dan off line, ditambah pula mengurus 4 anak memang luar biasa menguras tenaga dan pikirannya. Ia sering bercerita, bahkan lupa sampai hal-hal kecil seperti rencana membuat lemon tea dan infus water kesukaannya. Karena kondisi konsentrasinya yang belum stabil, jadilah sebelum tidur, saya bantu siapkan infus water di samping meja tempat tidur untuk ia minum setiap malamnya.

Tubuh Cepat Lelah

Gejala tubuh yang cepat lelah sering dialami oleh mamah mertua. Selain karena kondisinya yang sudah sepuh, juga karena kegiatannya yang masih aktif pada awalnya. Karena kondisi ini, akhirnya mamah istirahat untuk sementara dari beberapa aktivitas, seperti mengajar Quran di majelis yang keluarga kami bina. Tugas tersebut sementara diserahkan kepada putra-putrinya.

Pencegahan Dampak Panjang Covid-19

efek dampak panjang covid 19

Dengan beberapa gejala yang saya dan keluarga rasakan, sepertinya harus tetap banyak bersyukur, karena dari cerita teman-teman yang sama-sama pernah terpapar Covid, beberapa gejala yang masih menyertai setelah dinyatakan negatif, ada yang lebih banyak, seperti sesak napas, nyeri pada sendi dan otot, jantung berdebar, bahkan ada yang sampai munculnya ruam di beberapa area permukaan tubuh.

Ternyata setiap orang yang pernah terpapar Covid-19, kondisinya berbeda-beda. Ada teman yang langsung sembuh total, ada juga yang masih merasakan beberapa gejala setelah dinyatakan negatif, dengan kondisi dan gejala yang berbeda-beda setiap orangnya.

Tentunya gejala-gejala yang dirasakan bukan untuk dibiarkan dan bertambah parah. Agar kondisi tersebut tidak menjadi lebih kronis, kami sekeluarga tetap berikhtiar untuk mencegah gejala-gejala tersebut tidak bertambah lama dan kembali sehat seperti sedia kala.

Beberapa langkah untuk mencegah dampak jangka panjang Covid agar tidak bertambah parah yang kami lakukan diantaranya adalah:

  • Lebih disiplin dalam menjaga protokoler kesehatan. Tetap memakai masker, hand sanitizer selalu ada di tas setiap akan keluar rumah, dan semaksimal mungkin menjaga jarak dengan orang lain.
  • Mengonsumsi Vitamin C alami dari buah-buahan. Keluarga kami menyukai lemon. Saya lebih suka membuat lemon tea dari buah bervitamin C tinggi ini, sedang istri lebih senang membuat lemon infus water.
  • Menjaga pola makan lebih baik. Sayuran menjadi prioritas dengan mengurangi lemak jenuh, dan juga mengurangi mengonsumsi gorengan.
  • Menjaga istirahat dan tidur sebisa mungkin. Untuk poin ini susah-susah gampang sebenarnya, karena kami harus mengasuh 4 anak yang sedang masanya tumbuh kembang dan memang menyita waktu istirahat dan tidur, tapi sebisa mungkin kami berbagi tugas agar istirahat kami tercukupkan.
Untuk teman-teman yang mengalami hal serupa, semoga kita dikuatkan dan kembali sehat seperti sedia kala, dan untuk semuanya, mari kita tetap mendisiplinkan diri untuk menjaga protokoler kesehatan dengan tetap menjaga jarak, mengurangi mobilitas, serta selalu menggunakan masker ketika keluar rumah.

Related Posts

14 komentar

  1. Batuk yang Mas alami pasca C19 dan batuk biasa itu apa beda Mas? Maksudnya dari intensitasnya or frekuensinya gitu.

    Atau mungkin itu salah satu dari efek kondisi tubuh yang masih proses recovery setelah positif C19 tempo hari ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intensitasnya yang beda, mas prim. Dulu mengonsumsi orengan, kayanga fine aja. Sekarang, karena masih masa recovery jadi lumayan sensitif

      Hapus
  2. Teman-teman saya yang sempat kena covid juga mengeluhkan adanya long covid alias efek jangka panjangnya.

    BalasHapus
  3. Ternyata efek jangka panjangnya sampai seperti itu ya Kak, semoga selalu sehat dan pulih seperti sedia kala aamiin

    BalasHapus
  4. Betul. Efek panjang covid itu yang pertama batuk, yang kedua hilangnya penciuman. Saya terpapar mulai tanggal 27 juli. baru dua minggu terakhir penciuman saya normal. Sampai sekarang batuk belum juga hilang. walau hanya sesekali. Terima kasih telah berbagi kisah, ananda Regen.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah saya termasuk yg nggak merasakan long covid. Malah udah mulai begadangan lagi. Tapi memang gak boleh banget telat makan.. sekalinya telat pusingnya nggak hilang2.

    BalasHapus
  6. Saya juga kena long covid nih, Pak Yo. Batuknya hampir sebulan lebih nggak pergi². Makin sensitif sama gorengan, biskuit, cokelat, minum manis. Multivitaminnya saya lanjut plus obat batu dari puskesmas. Alhamdulillah membaik.

    BalasHapus
  7. Alhamdulilah belum kena covid, entah beneran belum pernah atau nggak kerasa. Tapi sekarang aku cepat lelah, semoga saja cuma efek badan yg tambah gede

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah, sebulan setelah isoman, semua gejala hilang.
    Pasca isoman masih ada batuk kalau dingin, masih oleng kalau jalan, ruam merah di tangan dan ngerasa "bloon" hahahah

    Tapi setelah sebulan, Alhamdulillah sehat.

    Malah gula yang naik, soalnya mamayu

    BalasHapus
  9. Efek long covid ini sepertinya tergantung daya tahan tubuh masing-masing juga apa yaa. Soalnya Alhamdulillah dari beberapa teman yang sudah pernah positif belum pernah ngalamin efek ini..
    Semoga Pak Yo dan keluarga diberi kesehatan terus yaa. Insya Allah akan terus membaik

    BalasHapus
  10. Temenku yang sembuh dari covid juga gini pak. Penciumannya masih belum pulih benar. Kalo pagi bangun tidur, butuh beberapa lama sampe bisa nyium aroma. Tubuh juga jadi lebih gampang capek

    BalasHapus
  11. Merasakan juga efek long covid, terutama pak. Suami yang waktu itu lumayan bergejala. Cepat capek dan pusing kalau kerjaan banyak. Konsentrasi juga berkurang.

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah sudah dinyatakan negatif covid 19. Dulu aku juga pernah badan meriang panas dingin tidak karuan lalu tidak bisa mencium bau dan lidah juga hilang rasa, mungkin kena covid kali ya, cuma aku tidak tes takut dinyatakan positif dan dibawa ke RS, akhirnya diem terus dalam rumah dua Minggu

    BalasHapus
  13. Semoga efek dari recoverynya cepet hilang total ya mas. Saya dan suami pas kena dulu, samasekali ga ada gejala. Kayak biasa aja, tapi 2 bulan lebih baru negatif . kenapa tau kena covid ya Krn mama meninggal Krn covid ini. Makanya semua yg pernah Deket mama di tes pcr. Dan ternyata aku, suami dan asisten mama yg positif. Cuma ya itu, ga ada gejala, jadi sebenernya kami juga bingung ini udah sembuh ATO belum.

    Semoga aja, orang2 makin terbiasa Ama prokes kesehatan, jadi bisa membantu menekan angka penderita yaaa. Aku sendiri rasanya udah sangat terbiasa Ama masker. Kayaknya aneh kalo sampe kluar tanpa masker ini :D

    BalasHapus

Posting Komentar