BLANTERWISDOM101

Pelarian Anisa Sustianing (Sebuah Ulasan)

Rabu, 14 Oktober 2020

 

Sumber: ngodop.com

Membaca cerita pendek pelarian buah karya Anisa Sustianing yang di muat di https://www.ngodop.com/ membawa kita terhanyut dalam cerita yang dibawakannya dengan apik dan alur yang sangat mengalir. Pelarian bercerita tentang sosok gadis bernama Mira yang memilih pergi dari rumah karena merasa takut kepada orang tuanya atas dosa yang ia lakukan. Ia menaiki sebuah bus tanpa tahu ke mana ia harus pergi, sampai pada akhirnya ia bertemu dengan seorang perempuan yang menyelamatkannya di bus ketika ia mengalami efek mual karena hamil mudanya.

Mira tinggal beberapa waktu di rumah perempuan yang menolongnya -yang ternyata seorang dokter-, namun pada akhirnya ia harus pergi walau belum tahu harus ke mana, ketika ia bertemu dengan sosok laki-laki yang menghamilinya di rumah perempuan yang telah menolongnya.

Pada kesempatan kali ini, cerpen pelarian akan diulas dari segi intrinsik dan ekstrinsik. Bagi yang belum membaca cerita pendek ini sila berkunjung ke https://www.ngodop.com/2020/04/pelarian.html

 

Unsur Intrinsik

Unsur Intrinsik berarti unsur yang ada pada cerita secara langsung, sehingga mempengaruhi performa dari cerita itu sendiri. Unsur intrinsik terdari dari tema, tokoh dan penokohan, alur, sudut pandang, dan amanat.


TEMA

Tema yang diangkat dalam cerita pendek pelarian adalah tentang kebingungan seorang gadis atas kehamilan di luar nikah yang ia alami.


TOKOH DAN PENOKOHAN

Tokoh sentral dalam cerita pendek pelarian adalah seorang gadis bernama Mira. Ia digambarkan sebagai sosok gadis rumahan yang lulus SMA yang kemudian menjadi buruh pabrik, sifat ‘rumahan’nya perlahan berubah ketika ia bertemu dengan sosok lelaki yang meluluhkan hatinya.


ALUR

Alur yang digunakan dalam pelarian adalah alur maju. Cerita dimulai dengan Mira yang berada di terminal untuk menunggu bus pemberangkatan, kemudian ia menaikinya, bertemu dengan seorang perempuan yang akhirnya menolong dan membawa ke rumahnya.


LATAR

Latar pertama yang digunakan adalah terminal, tergambar dari paragraf 11  dimana seorang kondektur menyuruhnya menaiki bus yang siap berangkat. Kemudian latar selanjutnya berlanjut sepanjang perjalanan dalam bus, kita dapat membacanya pada paragraf 25.


‘Bus terus saja meluncur membelah jalanan. Berbagai pemandangan telah silih berganti dilalui. Persawahan, rumah penduduk, pasar, perkebunan kelapa, hingga area pemakaman. Beberapa kali terhenti ketika para penumpang turun di tempat tujuan mereka.

Latar terakhir adalah rumah dokter perempuan yang menolong Mira ketika ia terkena emesis di bus yang membuatnya pingsan.


SUDUT PANDANG

Sudut Pandang yang digunakan dalam cerpen pelarian adalah sudut pandang pertama, penggunaan kata ‘aku’ oleh tokoh utama menjadi indikasi bagaimana pengarang memilih point of view dalam sudut pandangnya.


AMANAT

Hikmah yang dapat kita petik dari cerpen pelarian diantaranya adalah untuk berhati-hati dalam bergaul, jangan tertipu oleh rayuan-rayuan dari orang yang belum kita tahu jelas karakternya. Cerpen ini juga mengajarkan kita secara tersirat, bahwa penyesalan yang datang di akhir waktu, akan sia-sia setelah kita melanggar norma-norma yang berlaku.

Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berasal dari luar yang mempengaruhi sebuah tulisan terbentuk, tetapi tidak ditampilkan secara langsung dalam cerita. Beberapa unsur ekstrinsik yang akan diulas adalah latar belakang penciptaan, kondisi masyarakat, dan psikologis penulis.


LATAR BELAKANG PENCIPTAAN

Kondisi masyarakat saat ini yang serba bebas membawa kita pada fenomena banyaknya gadis yang hamil di luar nikah. Kondisi tersebut menjadi latar belakang penulis dalam membuat cerpen pelarian.


KONDISI MASYARAKAT

Banyaknya lulusan SMA yang menjadi buruh pabrik menjadi fenomena tersendiri dalam masyarakat kita, dan pergaulan yang sangat berbeda antara dunia sekolah dan dunia pekerjaan, menjadikan  beberapa buruh pabrik yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas, dan pada akhirnya perempuanlah yang menjadi objek korban dalam hal tersebut. Kondisi masyarakat yang mengkhawatirkan ini pada akhirnya menggerakkan jari-jemari Anisa Sustianing, Sang Penulis Pelarian untuk menuangkannya dalam bentuk cerita pendek


PSIKOLOGIS

Tanggung jawab sebagai sesama manusia menjadi landasan psikologis dalam pelarian ini, terlebih sosok perempuan yang selalu menjadi objek korban dalam kasus hamil di luar nikah, sehingga penulis cerpen ini mempunyai pesan tersirat agar perempuan lebih berhati-hati dalam bergaul, khususnya dengan lawan jenis, agar tidak terjerumus dalam zina. Dan pesan ini tidak hanya berlaku bagi yang masih single, tapi juga bagi yang sudah menikah, karena bisikan setan untuk melakukan perzinahan tak memandang bulu kepada siapapun.



SIMPULAN

Setiap tulisan akan memberikan pesan, baik secara tersirat dan tersurat. Cerita pendek Pelarian secara jelas mengajarkan kita secara tidak langsung bahwa tak ada jaminan kita kuat dalam menghadapi setiap godaan yang akan menjerumuskan pada penyesalan yang sia-sia. 


Sosok fiktif Mira dalam pelarian adalah gambaran masyarakat di sekitar kita. Ketika kasus hamil di luar nikah dianggap sudah biasa, dan masyarakat sudah acuh tak acuh dengan masalah tersebut. Namun lain halnya dengan sosok perempuan yang ditinggalkan pasangannya yang tidak bertanggung jawab, beban psikologis dalam menanggung rasa malu dan juga merasa berdosa akan terus menghantui.

Semoga dengan membaca pelarian akan menjadikan kita sosok yang terus belajar untuk bertanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap tubuh sendiri yang Tuhan amanahkan kepada kita, karena kelak ketika kita kembali pada-Nya, bagaimana jika kita ditanya: kau apakan saja tubuhmu selama di dunia?.


Referensi:
1. www.ngodop.com/2020/04/pelarian.html
2. facebook Anisa Sustianing
3. thegorbalsla.com/unsur-intrinsik-dan-ekstrinsik
Share This :
Yonal Regen

Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak komentar. Semoga bermanfaat. Salam