a journey

Bumil Lebay

2 komentar

ibu hamil          

Perut besarnya sudah nampak jelas, gerakan-gerakan ajaibnya sudah mulai terasa, dan ruang gerak sang istri sudah mulai terbatas. Di kehamilan ke empat ini, ia mengira akan lebih mudah menjalaninya, namun ternyata tetap sama saja, seorang ibu hamil tetap harus berjuang dengan luar biasa walau dengan kondisi kepayahan.

Belajar Menjadi Suami Siaga

Sebagai seorang suami, menjadi siaga adalah kemutlakan, selalu siap sedia di sampingnya, dan memenuhi segala kebutuhannya. Walau sebagian orang mengatakan terlalu bucin –budak cinta-, tak apalah untuk sang belahan jiwa dan calon buah cinta.

Jadilah julukan ‘bucin bumil’ tersematkan menggantikan istilah formal suami siaga. Tak apa juga, anggap saja itu julukan manis untuk sang Arjuna.

Menjelang trimester kedua, Bidan Desa baru kami kunjungi kembali untuk memeriksakan kondisi janin dan kesehatan sang ibu. Alhamdulillah, detak jantung di balik perut sang istri berdetak normal, tanda sang jabang bayi baik dan sehat, kemudian bidan desa menanyakan tentang kondisi sehari-hari yang dialami istri.

Mual dan pusing disampaikan kepada ibu bidan sebagai dua rasa tak nyaman yang masih di alami, sang bidan merasa keheranan, ko bisa hamil di minggu ke-25 masih merasakan mual dan pusing.

“Ibu hamilnya lebay nih”

Kami tertawa demi mendengar ucapan ibu bidan, karena kami sudah mengenal beliau sebagai sosok yang memang nyablak, sehingga memang ucapannya luar bisa tajam bagi orang yang belum terbiasa dengan caranya bicara. Kami sudah mengenalnya, karena kami memang juga bertetangga –walau agak jauh-, dan juga setiap proses mengandung dan melahirkan, beliaulah yang juga membantu proses persalinannya, walaupun putra pertama dilahirkan di rumah sakit, tapi beliau juga yang membantu proses administrasi kami ke rumah sakit. Demikian kami sudah terbiasa dengan gaya bicaranya yang memang berbeda dari orang sunda.

Sepulang dari ibu bidan, sifat sensitivitas sang istri tergelitik juga, sambil tersenyum ia mengatakan, ko bisa-bisanya bu bidan bilang kalau ibu hamilnya lebay.

Kehamilan setiap perempuan tidak ada yang sama, ada yang merasa biasa-biasa saja tanpa merasakan nyidam, ada pula yang sampai harus dirawat beberapa kali karena mengalami emesis yang luar biasa. Hal kedua itu yang dialami oleh sang istri, tiga kali dirawat di rumah sakit, beberapa kali periksa rutin ke dokter kandungan, dan masih merasakan mual, muntah, dan pusing ketika usia kandungan sudah lepas dari tiga bulan.

Mau engkau dikatakan lebay, mau engkau dikatakan manja, biarkan saja. Kita tidak akan bisa mengontrol pembicaraan orang lain, kita juga tidak akan bisa mengendalikan apa yang akan diucapkan mereka.

Penutup


Mari berfokus untuk memilih berbahagia saja dan bersyukur dengan anugerah yang dititipkan untuk kita, dan semoga Allah memberikan ilmu mumpuni untuk mengajari nasab kita, agar kelak mereka bisa membawa orangtuanya ke surgaloka.

Related Posts

2 komentar

  1. Salut untuk para suami yang siaga mendampingi masa kehamilan istri. Semoga selalu sehat dan lancar sampai melahirkan...

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email