Setelah Lebaran, Lalu Apa?

Posting Komentar

Satu syawal telah tiba, idul fitri yang dinanti-nanti juga telah terasa. Media sosial ramai dengan ungkapan kesedihan warga net yang ditinggal ramadhan, namun di belakang diam-diam juga banyak yang menarik napas lega, karena rutinitas ramadhan telah tiada. Tak perlu lagi menahan lapar dan haus seharian, tak perlu lagi shalat tarawih di awal malam, dan tak perlu lagi mengeluarkan harta atas nama zakat fitrah untuk menyucikan jiwa.
Ungkapan dan amalan setelah idul fitri bisa jadi adalah indikasi tentang wajah asli kita, idealnya adalah kita merasa sedih ditinggalkan ramadhan dan diikuti dengan amalan yang tak putus seperti semangatnya kita di bulan ramadhan.
Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang bermuka dua, mengaku sedih namun tak ada tindak lanjut yang nyata, tak ada pembuktian bahwa hati kita lara ditinggal tamu mulia. Ungkapan kesedihan hanya jadi pemanis semata.
Ibadah ramadhan adalah ikatan kita dengan sang maha pencipta, hanya Dia yang tahu seberapa kualitas ibadah dan hati kita terpaut pada-Nya. Ibadah ramadhan bukan masalah ekspresi yang di umbar, namun konsistensi kita menjalankan semangat beragama.
Semoga ramadhan tahun depan kita masih diberi umur, untuk terus memperbaiki ibadah dan niat hati kita, bahwasanya shalat, ibadah, hidup dan mati kita hanya untuk Allah semata.

Yonal Regen
Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

Related Posts

Posting Komentar