a journey

Sang Penjaga Rumah Allah

2 komentar

marbot

Rumah Kami berdampingan dengan sebuah Masjid, sehingga beberapa kegiatan di dalamnya bisa tampak terlihat dari pekarangan rumah, termasuk rajinnya sepasang suami istri yang mengurus masjid tersebut. Orang yang biasanya mengurus Masjid disebut marbut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan marbot, namun berbeda kasus dengan marbut pada umumnya, mereka dipekerjakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) untuk membantu mengurus masjid dengan upah tertentu, namun dua orang istimewa ini tidak, mereka hanya mewakafkan diri mengurus masjid tanpa ada penunjukan dan tanpa ada upah bulanan. Luar biasa.

Marbot Masjid

Sang istri dikenal sebagai sosok yang baik oleh warga, yang tanpa sungkan membersihkan area masjid, biasanya di pagi hari sebelum ia berangkat bekerja sebagai buruh jahit. Sedangkan sang suami lebih fokus ke perawatan masjid, seperti jika ada genting yang bocor atau masalah fisik Masjid lainnya.

Suatu waktu, sebagai sesama tetangga, pernah kami mengobrol ketika beliau bersilaturahmi ke rumah. Diantara sekian tema obrolan, keluarlah curahan hatinya tentang bagaimana proses mereka mengurus Masjid, dari sekian perjalanan itu, ada satu momen mereka pernah merasa patah arang, bukan karena tidak di apresiasi dalam bentuk rupiah, tapi disepelekan bahkan dihina.

Dalam ceritanya, pernah suatu kali, laki-laki yang biasa melantunkan adzan ini tetiba di mencak-mencak oleh salah satu oknum Dewan Masjid yang dianggapnya tidak becus mengurus masjid, karena bocor akibat hujan terjadi di beberapa titik di area dalam Masjid, hatinya panas menahan emosi.
“Andaikata beliau bicara baik-baik, meminta pertolongan untuk membetulkan genting yang rusak yang mengakibatkan bocor waktu hujan, kan akan lebih baik.” Paparnya.

Kejadian tersebut sempat membuatnya berpikir untuk berhenti membantu mengurus masjid, namun sang istri yang mengingatkannya bahwa hakikat pekerjaan mereka bukanlah untuk manusia, diluar apapun tanggapan mereka, tapi ini adalah bentuk pengabdian terhadap Allah, karena Allah untuk rumah Allah.
Spechless...

Bagaimana Jika kita Menjadi Marbot Masjid?

Bagaimana jika kita berada pada posisi mereka? Wallahu a’alam. Saya pribadi tidak bisa membayangkan. Berharap bisa belajar dari luar biasa nya kerja sama suami istri ini, hati yang ikhlas, dan pengabdian yang tulus.

Allah maha lebih tahu dalamnya hati dan niat kita dalam berbuat sesuatu. Juga, semoga kita lebih peka dan menghargai setiap profesi, apapun.

Penutup

Menjadi marbut, profesi sebagai garda terdepan dalam menjaga tempat mulia, tempat kita bersujud. Terlebih di tengah wabah pandemi corona sekarang, dimana sebagian masjid ditutup mengikuti anjuran pemerintah, orang-orang tidak bisa menikmati sementara waktu nikmatnya ibadah berjama’ah. Hanya orang-orang tertentu yang masih bisa berinteraksi dengan fisik masjid dan bersimpuh secara langsung di rumah-Nya. Salah satunya mereka, marbut.

Related Posts

2 komentar

Posting Komentar

Follow by Email