a journey

Ini Bukan Kemauan Kami

2 komentar

Shalat jum’at baru saja selesai, langkah-langkah jema’ah bertahap keluar dari rumah Allah, sebagian masih khusyu bermunajat kepada-Nya.
Kawanan bapak-bapak berjalan di gang kecil selama perjalan pulang, seorang diantaranya membersamai ku,dia beramah tamah sambil bertanya kemajuan pendidikan anaknya, kebetulan anak sulung sang bapak mengaji di kediaman ku.
Berharap jadwal pengajiannya ditambah, karena sang anak seharian dirumah, tampak tak lepas dari gawainya.
“Sepertinya semua anak sekolah saat ini akan banyak berinteraksi dengan HP pak, karena belajar on line memang seperti itu teknis nya, materi akan disampaikan guru, dan guru, salah satunya  mungkin juga menggunakan hand phone” sela ku pada sang bapak.
“Jadi sampai kapan nih belajar dirumah seperti ini?” tanyanya.
“Setiap dua minggu pihak sekolah selalu menunggu surat edaran dari dinas, sejauh ini sudah dua kali setiap dua minggu selalu diperpanjang, sepertinya akan terus diperpanjang melihat kondisi negara kita masih di tengah wabah corona pak” jawabku agak melebar.
“Sepertinya memang seperti itu ya yang diharapkan para guru?!”
Langkahku terhenti, serasa tertahan dengan maksud ucapannya. Mencoba memahami setiap penggalan kata-katanya.
Sang bapak masih dengan tenangnya melenggangkan badan, tanpa merasa ada yang salah dengan ucapannya.
Duh gusti...
Andai saja mereka merasakan bagaimana menjadi pengajar yang harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Notifikasi aplikasi What’s Up yang terus on, tetap melayani serbuan pertanyaan murid-murid yang belum paham materi yang disampaikan, dan tetap melaksanakan penilaian terhadap murid-murid, belum lagi mengurus putra kandung sendiri yang mengalami hal sama tanpa terkecuali, belajar dirumah.
Ini bukan kemauan kami, jika boleh memilih, tentulah kita ingin belajar seperti biasa, bertatap muka dikelas, bertemu langsung dengan siswa-siswi semua.
Ini bukan kemauan kami, menjadi bahan fitnah, memakan gaji buta tanpa bekerja. Jangan karena kami tidak berseragam, kami dianggap leyeh-leyeh, tidak, kami tetap bekerja, bekerja di rumah.

Related Posts

2 komentar

  1. Belum lagi jam mengajar yang berubah dari 6-8 jam kini jadi hampir 24 jam.

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email