Buku Tentang Ayah: Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?

25 komentar
Buku Tentang Ayah

Saat anak-anak sedang mengikuti program Tandem Baper (Empat Jam Tanpa Android Bersama Perpustakaan), sebuah program mengisi libur sekolah yang bermanfaat di Diarpus Kabupaten Sukabumi waktu libur sekolah semester ganjil kemarin, saya mengantarkan mereka selama kegiatan tersebut ke perpustakaan di Cisaat. Sambil menunggu kelas mereka berlangsung, saya mencari buku-buku di lantai 2 perpustakaan untuk dibaca. Di antara sekian bacaan, ada buku tentang ayah dengan judul; Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? yang menarik perhatian.

Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? tidak terlalu besar dan tidak terlalu tebal juga. Saya pun selesai membacanya di kisaran 2 jam selama menunggu kelas anak-anak. Di setiap halaman bacaannya pun tak terlalu panjang-panjang, ringkas, melow tapi to the point.

Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?

rekomendasi buku tentang ayah

Ketika awal melihat judul buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? ingatan ini langsung tertuju pada almarhum bapak yang meninggal setahun lalu. Semakin dibuka dan menelusuri diksi demi diksi di buku ini kilasan kenangan dengan bapak semakin menjadi-menjadi.

Tidak semua tulisan di buku tentang ayah karya Khoirul Trian ini relate dengan kehidupan hubungan ayah anak versi saya, tetapi memang buku ini cocok dibaca untuk yang sedang merasa kehilangan sosok ayah, baik yang memang kehilangan karena ayah telah meninggal atau pun karena hal lainnya seperti ayah yang bercerai dengan ibu dan meninggalkan anak-anaknya, tak pernah tahu sosok ayah karena tak pernah bertemu, atau bisa jadi sosoknya ada tapi kasih sayangnya entah kemana.

Buku yang diinfokan di halaman mukanya akan diangkat ke layar lebar ini hadir dengan 5 chapter dan 1 penutup special chapter. Di setiap bab nya seakan mewakili dinamika hati setiap anak yang merasa ditinggal dalam kehilangan dan di bagian akhir adalah jawaban dari sudut pandang sosok ayah untuk setiap anak.

Gambaran ringkas curhatan anak yang kehilangan ayah di setiap halaman buku ini salah satunya ada dalam rangkaian diksi ini:

khoirul trian

Tapi dari 24 jam dalam sehari
aku ga bisa kelihatan kuat terus
Bajingan, ya
Selalu saja ada malam yang habis dengan menangis

Gapapa 'kan mengeluh sebentar?
Ini terlalu cape

Membaca dari gaya bahasanya buku ini sepertinya memang cocok untuk gen Z yang sedang mengalami isu fatherless dan atau rasa kehilangan yang berelasi dengan hubungan ayah anak.

Buku dengan judul lengkap Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? Anak Kecil ini Kehilangan Jalan pulangnya bisa menjadi teman saat sedang di puncak rasa kehilangan karena memang dibuat dengan bahasa yang menyentuh dan menyayat hati. Tapi untuk usia saya yang sedang belajar mengikhlaskan kepergian ayah tanpa banyak drama, buku ini tak terlalu menggetarkan hati walaupun memang menggugah kenangan dan juga kerinduan terhadap sosok ayah yang telah tiada.

Buku Tentang Ayah

Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?

Ayah dan cintanya dalam diam memang tak akan sepenuhnya dipahami oleh keterbatasan pemahaman setiap anak, bahkan ketika ia sudah tiada. Bahkan banyak yang masih belum memahami kenapa ayah dan rasa sayangnya begitu misteri.

Para penulis banyak menghadirkan tema ayah yang bisa membantu kita belajar sudut pandang ayah dari berbagai versi. Setidaknya dalam belajarnya kita tentang ayah, buku-buku tentang ayah ini bisa menjadi teman setia.

Di antara sekian tema ayah Selain Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? yang bisa kita nikmati buku-bukunya antara lain ada Andrea Hirata dengan Ayah dan Sirkus Pohon,Tere Liye dengan Ayahku (Bukan) Pembohong, Seribu Wajah Ayah dari Nurun Nala, dan Ayah: Pemilik Cinta yang Terlupakan dari Eidelweis Almira.

Lesson Learned dari Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?

Buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?

Isu fatherless di negeri kita memang mengkhawatirkan. Banyak anak yang dipaksa yatim karena ketiadaan sosok yang seyogianya jadi salah satu tempat berlindung teraman dalam hidup. Bahkan menurut riset Program Edukasi Mahasiswa UNS pada tahun 2021 menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga Fatherless Country setelah Amerika dan Brazil. Miris.

Tapi hidup memang harus berlanjut. Pelajaran yang bisa kita ambil adalah jangan sampai hal seperti itu terulang pada generasi selanjutnya. Yakinkan bahwa anak-anak kita nanti adalah anak yang tidak akan merasa tidak ada pegangan hidup dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Pastikan akan ada kasih sayang orang tua yang akan selalu menjadi penguat hidup mereka.

Jika kebetulan posisi teman-teman sedang dalam berada seperti karakter dalam buku tentang ayah terbitan Gradien Mediatama ini, just take your time, karena beginilah hidup, ada kalanya kita ditinggalkan atau suatu saat meninggalkan dan semoga buku Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? bisa menjadi salah satu yang memeluk luka kesendirian kita.

Related Posts

25 komentar

  1. Daku baru tahu kalau buku ini menjadi inspirasi dan akan diangkat ke layar kaca.

    Tapi wajar juga sih karena dari segi judulnya yang bikin terhenyak. Apalagi dari sisi lain bisa menjadi inspirasi karena isu fatherless ini seakan jadi momok yang belum ditemukan jawabannya.

    Semoga daku bisa baca bukunya dulu, sebelum jadi film.

    BalasHapus
  2. aku pengen baca tapi takut nangis :(

    BalasHapus
  3. Gambar terakhir berasa ditampar banget siii. Aku sbg orang tua kadang memang suka merasa capek, lesu, bahkan pernah merasa down banget juga. Tapi sekarang udah ada anak, sebisa mungkin kubuang jauh-jauh pikiran begitu. Kesian anakku, gimana nanti jadinya kalo punya bapak yang sayu.

    Aku kemarin sempet baca buku ini sih di Gramedia. Benar, isinya singkat, banyak ruang kosongnya. Tapi kata-katanya terlalu menohok mas. saya nggak sanggup lanjutin heuheuheu

    BalasHapus
  4. Sedih ya kayaknya mas 😅.

    Tp jujur dari judul aja, udah bikin tertarik. At least orang biasanya akan ambil bukunya, dan baca sinopsis belakang. Design simple tp kombinasi garis merah dan hitam bikin lebih hidup. Cuma ya itu, kalo isinya sedih, aku skip. Mending baca spoiler atau review singkat yg mas tulis 😄.

    Ga sanggub kalau harus baca ttg orangtua.

    BalasHapus
  5. Hmm... Ngomongin soal fatherless nih emang agak menyayat hati. Nggak sedikit kasus yang ada di sekelilingku.

    Andai aku baca buku ini, mungkin aku akan sangat sentimentil. Terlepas dari sebenarnya ayah mungkin menyimpan rasa sayang dan menunjukkannya dengan cara yang mungkin nggak kita pahami.

    Nggak bisa menyalahkan juga seandainya anak menganggap dia sudah kehilangan sosok ayah.

    BalasHapus
  6. Membaca bagian >>Selalu saja ada malam yang habis dengan menangis<< seperti menusuk hati, pilu. Walau hubunganku dengan ayah tidak seperti anak pada umumnya, aku merasakan bagaimana tulisan ini begitu dalam rasanya.

    Terlebih soal gen Z, merangkul mereka dalam masa kehilangan begitu rapuh.
    Apalagi soal sosok Ayah. Figur yang sangat penting buat seorang anak.

    BalasHapus
  7. Jadi ini POV-nya curhatan anak yang fatherless gitu ya? Kalau sampai mau diangkat ke layar kaca berarti menarik. Tapi memang judulnya menjual sih. Bikin orang tertarik. Tadi awalnya kukira buku tentang menjadi seorang ayah, ternyata bukan.

    BalasHapus
  8. Saya belum baca buku ini kak Yonal. Alamat bakal berurai air mata kalau baca ini. Secara bapak saya pun dua tahun lalu sudah berpulang, menyusul ibu yang sebelumnya juga wafat terkena covid.

    Saya baca reviewnya ini jadi sedih sekaligus miris, ketika di luar sana masih banyak isu² fatherless mulai mencuat. Padahal mencintai seorang bapak sama saja dengan mencintai seorang ibu. Dan kasih sayang bapak sama berharganya dengan kasih ibu. Tidak ada yg boleh lebih sedikit hadirnya. 🥲

    BalasHapus
  9. Ini teh mau yang mau rilis film nya nanti abis lebaran ya? Isue fatherless di Indonesia butuh perhatian ngeuri kita ke 3 ya

    Tap ya memang kehidupan mah ga bisa kita atur sepenuhnya. kalau bicara soal ayah tuh suka sensitif dan gimana ya karena mungkin selama ini ga pernah diurus sosok ayah jadi suka bingung ajah

    BalasHapus
  10. Ternyata buku ini bakalan diangkat ke layar kaca ya dan bener dari segi bahasa bakalan lebih related dan ngena untuk gen Z.

    Judul bukunya, bikin penasaran. Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? Ternyata memang penuh pelukan. Bisa terbayangkan gimana rasanya menjadi anak yang mengalami fatherles, manalah angkanya makin tinggi, miris dan sedih sekali. Semoga menjadi catatan di generasi berikutnya jangan sampai berulang.

    Nah, buku Andrea Hirata aku baca dan Yap, bahasa cinta ayah beda. Nggak banyak kata, tapi saya selagi kuliah dulu suka mergokin bapak nangis di 1/3 malam dan doain banyak hal baik buat anaknya. Dari situ ku paham kalau bapak itu sayang sama semua anaknya, cuma nggak bisa mengutarakan nya secara langsung.

    BalasHapus
  11. Sejenak langsung teringat Almarhum Ayah. True ini buku kayaknya memang bermanfaat banget bagi kita yang kehilangan sosok ayah ya. Hidup sedang tak baik-baik saja pasti dunia terasa hancur tanpa ada sosoknya. Wajar banget kalau semua orang pasti akan merasa sedih di moment Tersebut, tapi untungnya ada buku tersebut ya kak , lumayan banget nih

    BalasHapus
  12. Hmm... kayaknya harus saya baca ini
    Apalagi memang sudah tidak punya ayah, setidaknya bisa bertanya ke ayah dalam mimpi atau ketika berdialog dengan diri sendiri
    Sebab rasanya tuh sekarang merasa arahnya harus aku benerin tapi selalu berharap ada ayah yang bisa nuntun

    BalasHapus
  13. Saya jadi bisa sedikit lebih paham kang bagaimana kondisi anak² yang mengalami fatherless....bukunya memang bagus , terharu ada sedih ada as baca buku ini. Relatef soalnya dengan kenyataan di masyarakat.

    BalasHapus
  14. Isu fatherless ini memang adalah isu yang sangat penting di Indonesia karena ternyata ini banyak sekali terjadi di masyarakat kita. Banyak yang sadar maupun tidak sadar tapi kehendaran seorang ayah dalam keluarga itu pastinya penting karena menjadi nahkoda dari sebuah rumah tangga dan juga figur yang bisa dijadikan sebagai contoh dan juga pemimpin. Sehingga ketidakhadiran sosok ayah pastinya membuat situasi menjadi tidak pasti

    BalasHapus
  15. Terkadang buku bisa menjadi teman bercerita yang baik, dengan membacanya seolah kita sedang berbagi cerita dengannya. Mungkin bagi yang punya ayah buku ini tidak terlalu terasa tapi bener kata Masnya bagi yang baru kehilangan ayah bisa jadi kerasa banget. Beberapa rekomendasi buku tentang ayah kaya Tere Liye "Ayahku Bukan Pembohong" sudah kubaca meski rada lupa detail isinya, he. Tapi yang Andrea Hirata kemaren baru beli dan belum kubaca, :)

    BalasHapus
  16. Bapak saya meninggal saat usia saya 32 tahun. Sudah tahap saya mampu menghadapi. selagi selama kebersamaan kami, tidak banyak cerita manis yang kami lalui bersama. Padahal kata orang, saya yang paling mirip dengan Bapak saya hahaha. Lewat buku ini sebenarnya ingin menyuratkan kalau setiap anak membutuhkan sosok ayah. Namun sikon setiap anak memang berbeda. Ada anak yang harus kehilangan sosok ayah karena meninggal. Namun paling pedih memang kehilangan sosok ayah, padahal ayah itu masih berada di dekat sang anak.

    BalasHapus
  17. Unik juga nih.. quote yang diambil ka Yonal justru di bagian yang ada "curse"-nya.
    At least.. itu perasaanku ketika membaca sosok seorang Ayah yang harusnya menjadi contoh, memang babak belur banget.. kudu menjalani banyak realita hidup dan dipaksa menjadi kuat saat membersamai anak.

    Memang sejatinya, ga ada sekolah untuk orangtua.
    Tapi kita bisa saling memahami, belajar dan berkomunikasi secara utuh bersama pasangan dan anak.

    BalasHapus
  18. Selalu menjadi hal yang menarik saat kita membaca tentang ayah Mas Yonal, saat kehilangan ayah saya butuh 6 tahun untuk berhenti menangis setiap mengunjungi di rumah terakhirnya, sebenarnya belum ikhlas rasanya sampai detik ini, tapi belajar mengihklaskannya dan betul seperti kata Mas Yonal, di usia kita sekarang tentu saja mengihklaskannya dalam diam tanpa drama tapi itu lebih menyesakkan rasanya. Mau baca ini tapi pas baca "sedang di puncak rasa kehilangan" takut malah makin tidak ikhlas Mas, tapi penasaran juga sama isinya, siapa tahu justru malah membantu semakin mudah ikhlasnya ya, jadi gambling mau baca atau enggak hehe

    BalasHapus
  19. Waaahh jadi pengen beli. Kykbya dibaca para ayah juga cocok, dibaca sama anak2 usia otw remaja juga udah cocok yaaa.
    Memang fatherless menjadi problem sosial negara ini.
    Tapi kalau aku perhatikan lagi mas, itu terjadi saat boomer jadi ortu nggak sih?
    Nah gen milenial yang menjadi ayah zaman now aku perhatikan udah lebih baik lebih punya kesadaran buat membersamai anak juga.
    Semoga nanti juga generasi di bawahnya mamin baik.
    Buku ini kyknya asyik kalau jadi bahan diskusi setiap kekuarga ya.
    Pengen baca juga deh.
    Nanti mau cari. Thanks infonya.

    BalasHapus
  20. Pengen baca. Tapi takut banget ketrigger hehe. Ini kayanya cocok buat dibaca cowo cowo dan para bapak ya Pak.. Next mau cari buku ini buat pak suami juga, huhuu..

    BalasHapus
  21. Wah keren banget bukunya mau diadaptasi ke layar lebar ya. Tapi memang sih Peran ayah dalam pengaturan itu sangat penting ya. Jadi bukan hanya ibu yang harus selalu belajar untuk mendidik anak melainkan Ayah juga memiliki tanggung jawab yang sama.

    BalasHapus
  22. Jadi penasaran ingin baca bukunya, apalagi nanti diangkat ke layar lebar, biasanya feelnya beda nih. Kalau sutradara dan penulis skenarionya cakap bisa lebih bagus versi film dibandingkan bukunya

    BalasHapus
  23. Saya sudah baca buku tema ayah dari Tere Liye, Andrea Hirata, Irfan Hamka, dan JS. khairen. Namun, untuk cerita ayah yang satu ini belum saya baca. Dengan adanya klaim akan segera dialihwahanakan ke layar lebar, tentunya buku ini memang recommended.

    BalasHapus
  24. Cukup mencengangkan ya bahwa ternyata Indonesia berada di peringkat tiga untuk isu fatherless. Banyak ayah yang menitikberatkan pengasuhan hanya pada ibu, padahal ayah punya porsi yang sama dalam pendidikan anak. Ini harus jadi pengingat bagi semua ayah yang ada di Indonesia.

    BalasHapus
  25. Membaca buku tentang Ayah seringkali lebih banyak menderas air mata daripada buku tentang ibu. Kita seperti diingatkan bahwa sosok Ayah itu ada. Hadirnya sama dengan ibu, tapi ia sering terlupakan.

    BalasHapus

Posting Komentar