Jika kita berbicara permasalahan santri di pondok pesantren pastilah akan banyak isu yang bisa diangkat. Sama halnya dengan lembaga pendidikan berasrama pada umumnya, selalu akan ada dinamika yang menyelimuti keseharian para santri ketika sedang mondok di pesantren.
Contoh-contoh permasalahan santri di pondok pesantren seperti masalah adaptasi dengan lingkungan pas awal-awal masuk, shock culture dengan budaya pesantren, perundungan, bahkan kekerasan dan atau pelecehan seksual.
Yang akan kita bahas pada tulisan ini adalah isu di pesantren yang diangkat dalam sebuah film pendek berjudul Wahyu yang berfokus pada masalah pelecehan seksual di pesantren.
Film Pendek Wahyu
Dari pengertian pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam di mana santrinya tinggal di asrama di bawah bimbingan dan asuhan para ustadz, maka memang tanggung jawab pengelola pesantren ini luar biasa karena harus mengelola 24/7 para santri mulai dari pendidikan, makan, tidur, dan pengawasan-pengawasan yang lainnya. Dalam menjalankan manajemen pesantren tentunya banyak dinamika yang menyertainya, termasuk potensi beragam permasalahan santri di pondok pesantren.
Dalam dunia perfilman sudah ada beberapa yang mengangkat tema pesantren, baik film panjang yang tayang di layar lebar maupun film pendek yang tayang terbatas. Salah satu film pendek yang sedang banyak dibicarakan yang mengangkat isu permasalahan santri di pondok pesantren adalah film dengan judul Wahyu.
Pada gelaran Jakarta World Cinema (JWC) 2025 pada September dan Oktober kemarin film wahyu ini juga cukup disorot karena keberaniannya mengangkat isu kekerasan seksual di pondok pesantren. Padahal film pendek Wahyu ini sudah diproduksi dari tahun 2024 dan juga pernah tayang di Jakarta Film Week pada tahun tersebut, tetapi di tahun 2025 ini film ini baru trending dan banyak diulas oleh berbagai kalangan.
Ramainya ulasan tentang film Wahyu ini bisa jadi karena berbarengan dengan sedang banyaknya disorot kasus pelecehan seksual di beberapa pondok pesantren akhir-akhir ini sehingga menjadi momentum film pendek Wahyu untuk terangkat kembali ke permukaan dan menjadi buah bibir banyak kalangan.
Film pendek Wahyu adalah produksi dari Akasia Pictures yang merupakan bagian dari Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Film berdurasi 17 menit ini disutradarai oleh Nada Leo Prakasa.
Sinopsis Film Pendek Wahyu
Short Movie berjudul Wahyu yang tayang di klikfilm.com ini menceritakan sosok yang namanya sama dengan karakter yang dijadikan judul, Wahyu. Wahyu sendiri adalah seorang santri yang baru masuk mendaftar untuk mondok di sebuah pesantren tradisional di Jawa (terlihat dari bahasa yang digunakan).
Diceritakan Wahyu memiliki kelainan seksual menyukai sesama jenis. Di pesantren tempatnya mondok ia melihat kebiasaan santri yang dianggap lumrah seperti tidak menggunakan pakaian atas saat jadwal bersantai atau saat tidak mengaji atau bahkan mandi bareng walaupun dengan masih menggunakan pakaian bawahan.
Wahyu setelah beradaptasi dengan kebiasaan di pesantren mulai melampiaskan nafsunya kepada santri lain yang satu kamar dengannya. Aksi bejatnya dilakukan saat malam hari ketika santri lain sedang terlelap tidur.
Aksi tidak terpuji Wahyu diketahui oleh Cholis, seorang santri tunawicara. Bagaimana seorang yang tidak bisa bicara dapat membongkar kasus pelecehan seksual ini? Di sinilah plot twist yang cerdik dari film pendek ini membuat kita yang menonton dibuat geleng-geleng kepala.
Plus Minus Film Pendek Wahyu
Yang saya suka dari film Wahyu ini adalah penggambaran pesantren tradisional yang sangat realistis. Pengambilan gambar saat santri makan bersama di satu nampan atau saat santri mengumandangkan nadhom Kitab Al-Fiyah adalah hal-hal yang memang relate dengan kehidupan para santri sehari-hari di pesantren tradisional pada umumnya.
Akting para pemain dalam Wahyu ini juga patut diacungi jempol. Karakter wahyu yang diperankan oleh Dafa Wahyu Lutfi Faqih terlihat natural. Saat ia masuk pertama kali ke pesantren gesture-nya memperlihatkan sebagai santri polos yang berusaha beradaptasi dengan lingkungan, tapi ada scene lain yang juga membuat ketegangan memuncak saat pandangan Wahyu tertuju pada Cholis, sorot matanya seakan berbicara sampai menusuk sehingga membuat Cholis seperti ketakutan dengan memalingkan muka secara refleks. Scene yang sama epik adalah saat adegan mandi bersama para santri, lagi-lagi pandangan Wahyu pada Cholis sangat menggambarkan sebuah intimidasi yang kuat sampai membuat Cholis salah tingkah dibuatnya, bahkan sampai terjatuh.
Untuk kekurangan di film pendek Wahyu ini secara teknis menurut saya pribadi tidak ada, namun sangat disayangkan ada adegan yang terlalu berani di film ini saat Wahyu melorotkan celananya dan tampak bagian aurat belakangnya dengan jelas. Mungkin dari sisi artistik adegan ini akan dianggap sah-sah saja, tetapi film ini mengangkat tema dunia pesantren yang beririsan dengan dunia agama sehingga bagi saya pribadi adegan tersebut terlalu berlebihan karena tanpa ada adegan yang memperlihatkan bagian tubuh yang sensitif itu pun pesan dari ceritanya akan tetap tersampaikan dengan utuh.
Lesson Learned dari Film Pendek Wahyu
Dunia pesantren saat ini sedang banyak disorot dengan banyaknya pemberitaan permasalahan santri di pondok pesantren. Berbanding lurus dengan banyaknya isu yang diangkat dalam dunia pesantren, film pendek Wahyu pun kembali terangkat pamornya dan menjadi buah bibir karena dianggap sangat realistis menggambarkan isu kekerasan seksual yang terjadi di pesantren.
Film pendek Wahyu sendiri terinspirasi dari kisah nyata teman sang sutradara yang menjadi salah satu korban kekerasan seksual saat mondok di pesantren. Dengan kreatifitas tim dari Akasia Pictures akhirnya dibuatlah film Wahyu yang juga menjadi salah satu dari 10 film Official Selection kategori Fiksi Umum dan menjadi salah satu dari 5 nominasi terbaik di kategori yang sama di gelaran IMAC (ILUNI UI Movie Award Competition) 2025 Februari lalu.
Dalam unggahan Instagram Jakarta World Cinema, penulis sekaligus sutradara Film Pendek Wahyu, Nada Leo Prakasa menuturkan:
Dalam film ini saya ingin menyelami pengalaman traumatis yang dialami oleh teman saya saat menjadi santri dulu, dan ingin mendiskusikan agar pengalaman tersebut tidak terulang lagi
Film pendek Wahyu adalah sebuah kritik konstruktif pada dunia pesantren, baik pesantren tradisional atau pesantren modern. Karena walaupun latar film pendek ini adalah sebuah pesantren tradisional, tetapi potensi kejahatan seksual bisa saja terjadi di dua jenis pesantren tersebut.
Film ini termasuk yang berani mengangkat isu yang kontroversial dan juga kompleks, karena ini berhubungan dengan dilema sosial di lingkungan pesantren yang notabene berhubungan dengan nilai-nilai agama. Walaupun tidak semua pesantren seperti yang digambarkan seperti di film pendek Wahyu, tetapi kita bisa memungkiri bahwa kasus-kasus seperti pelecehan seksual oleh oknum santri atau bahkan ustadz sekalipun dalam real-nya ada.
Maka sejatinya film pendek Wahyu ini menjadi pembelajaran dan juga warning kepada para pengelola pesantren untuk dapat lebih mengantisipasi agar tidak terjadi hal serupa di setiap pondok pesantren dengan kurikulum dan regulasi yang kuat agar dapat waspada untuk menghindari dari setiap kemungkinan permasalahan santri di pondok pesantren yang bisa saja terjadi sehingga pondok pesantren dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para santri belajar ilmu umum dan agama.






Saya ga suka tema seperti ini tapi ada dalam realita kehidupan kita. Harus banyak2 berdoa meminta perlindungan bagi anak dan cucu kita agar selalu diberi perlindungan dimanapun mereka berada.
BalasHapusPenting untuk membuka mata terhadap dinamika permasalahan santri di pondok pesantren. Film Wahyu ini menjadi warning sekaligus pembelajaran berharga bagi para pengelola lembaga pendidikan berasrama. Terima kasih sudah mengulas film yang sarat akan lesson learned ini, Pak Yonal.
BalasHapusBaiknya memang perlu screening kepribadian saatmasuk pesantren, mungkin. Karena bisa jadi ortunya tahu apa kebiasan buruk anaknya dan dah ga mampu menanganinya di rumah sehingga dimasukkan pesantren.
BalasHapusHal seerti ini perlu kejujuran dan keterbukaan orang tua kepada pengasuh shg di kemudian hari tidak menimbulkan masalah yang pada akhirnya menjadi mempengaruhi citra baik pesantren.
Pertama, aku mau apresiasi produser filmnya. Film-film pendek Indonesia tuh emang bagus-bagus ya. Singkat, padat, lugas tapi langsung mak jleb pesannya. Kayak si Wahyu ini. Aku belum lihat, tapi baca reviewnya di sini jadi ikut penasaran apalagi katanya digambarkan secara realistis gimana kultur dan habit di pesantren. Soal ceritanya, aku jadi inget adikku dulu pas masih mondok di salah satu pesantren terkenal di Jawa Timur. Pernah suatu waktu aku tanya dia, pernah nggak mengalami bullying atau kekerasan lainnya. Dia jawab nggak pernah, alhamdulillah. Tapi terus dia nyeletuk, kalau hal semacam itu pasti selalu ada di pesantren manapun, bahkan di asrama yang khusus putra/putri pun kekerasan seksual sesama jenis kadang juga ada. Hah?? Antara kaget, speechless dan langsung overthinking, nanti gimana anakku kalau mondok :(
BalasHapusPondok pesantren harusnya jadi tempat yang aman untuk para pelajar dan orang tua yang menitipkan anaknya untuk menuntut ilmu. Tapi itu dulu, kalo sekarang banyak sekali kasus di ponpes yang sayangnya cukup menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya, termasuk isu kekerasan seksual. Bahkan, bukan hanya diantara para santri, pengurus bahkan kyai pun ada saja yang terlibat di kasus semacam ini.
BalasHapusKekerasan seksual yang terjadi di beberapa pondok pesantren sejatinya mencoreng nama pesantren secara keseluruhan. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Semoga film Wahyu ini bisa menjadi bahan introspeksi unyuk semua pihak. Tadinya saya berpikir Wahyu itu korban, ternyata dari awalnya dia memang sudah menyimpang, ya.
BalasHapusSalah satu ketakutanku menjadi orangtua yang ingin menitipkan anakku di PP adalah hal begini. Nggak laki-laki atau perempuan sama beresikonya, daripada aku terlalu OT baiknya aku belum memasukkannya kesana. Tbh, aku mau nonton film ini tapi takut kepikiran, baca reviewnya aja udah ngeri banget, lai-laki sama laki soalnya.
BalasHapusSebetulnya kekerasan seksual dapat terjadi dimana saja, sepertinya ini fenomena gunug es, karena ada yang dulunya jadi korban justru di kemudian hari menjadi pelaku. Memutus rantainya menjadi PR bersama.
BalasHapusSalah satu keinginan kami memang mengirimkan anak ke pondok, hanya bisa memberikan bekal anak untuk melindungi dirinya dan selalu melibatkan Allah, ngeri membaca review filmnya
Ini realita yang membuat pesantren jadi tempat yang menakutkan bagi sebagian orang. Ya allah jauhkanlah kami dari bahaya bahaya prilaku menyimpang ini
BalasHapusFilm yang idenya berangkat dari kisah nyata dan dibuat manis dalam bentuk film pasti lebih kena pesan moralnya. Apalagi tema filmnya pas banget dengan kehidupan pesantren yang sedang jadi sorotan. Tentu kita tidak boleh tidak mengakui banyak manfaat yang didapat anak setelah lulus dari pesantren, walau tetap harus melek bahwa ada banyak hal yang diperbaiki.
BalasHapusWah, baru tahu ada film pendek yang berani angkat isu serius di pesantren. Menurut saya, film ini penting banget karena nggak cuma cerita fiksi, tapi juga ngasih insight soal realitas yang mungkin selama ini jarang dibahas. Walaupun ada adegan yang agak berani, tapi ceritanya tetap bikin mikir dan refleksi tentang keamanan dan kenyamanan santri di pesantren. Salut sama sutradara yang berani bikin karya kayak gini!
BalasHapus