a journey

Maaf dan Terima Kasih

2 komentar
sepucuk surat untuk diriku sendiri

It's hard for me to write something for my self, but now I'll try to force my self to write it. Why is it so hard? it's could be too long for me to hide from this world, I never reveal anything to anyone, I never cure my past, it was so sick. Then I realize, I've to learn to open my mind to take what I am. 

So, here I am.

A Letter For My Self

Dear My Self

Dari sekian masa yang kita lewati, waktu telah berlalu banyak dengan dinamikanya yang beragam. Perih, duka, bahkan air mata telah kita alami. 

Tak selalu tentang kenestapaan, engkau juga telah melewati sesungging senyum dan bahagia yang menyapa.

Dua kata utama yang ingin kusampaikan padamu kali ini: maaf dan terima kasih.

Maaf telah membuatmu pernah melewati hari-hari dengan air mata yang tertahan di pelupuk, namun kadang runtuh berbulir-bulir tak tertahan. Perundungan masa kecil yang membuatmu menutup diri sekian lama, Kekerasan yang kau simpan rapat untuk menutupi diri seakan baik-baik saja.

Maaf telah membuatmu melewati waktu dengan banyaknya salah dan hilap. keputusan yang diambil, kecerobohan, dosa-dosa baik yang sadar maupun tak sadar dilakukan, dan segala sesuatu yang belum bisa kuberikan dengan sebaik-baiknya dalam hidup.

Terima kasih pula engkau tetap bertahan dengan segala lika-liku hidup ini. Engkau bertahan di tengah bullying yang pernah kau alami, walau kini masih jelas jejak dan bekas di jiwamu.

Terima kasih engkau telah melawan setiap penindasan verbal dengan prestasi-prestasi di bangku sekolahmu. Ya, itu adalah salah satu cara balas dendam terbaik kita.

Terima kasih engkau bertahan di dunia perantauan yang sangat keras sampai tubuhmu ringkik, bak tinggal tulang berlapis kulit, walau akhirnya engkau kembali pulang ke kampung halaman. Bukan untuk mengalah dengan Ibu kota, namun cukup bagimu mengambil pelajaran hidup dari kerasnya Jakarta.

Terima kasih engkau telah berusaha memeluk agamamu sebagai tempat kembali terbaik kepada Sang maha Pencipta. Karena jika bukan karena-Nya, tentulah hidupmu akan terus tersesat tanpa arah.

Sekali lagi, maaf dan terima kasih atas segalanya

Penutup

So, that's all what I have. Sorry and thank you, two words I expressed for my self. I hope, we'll be better for now and the future, forgiving and taking what we are.


Related Posts

2 komentar

  1. Duh aku sampai meneteskan airmata. Kayaknya saya bisa banget mengerti gimana situasi A Yonal di masa lalu karena saya pun mengalami hal yang serupa namun tak sama.

    Semoga kesedihan di masa lalu membawa senyuman di hari ini dan masa depan ya

    BalasHapus
  2. Amin, terima kasih teh ren. Salam buat saudara-saudara di Jerman

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email