BLANTERWISDOM101

Uwais al-Qarni Sang Pengabdi

Minggu, 25 Oktober 2020

 

Uwais al-Qarni Sang Pengabdi

Kepada siapa kita belajar tentang hidup sederhana dan cara mengabdi kepada orang tua?. Uwais al-Qarni bisa menjadi salah satu referensi. Ia terkenal dengan kesalehannya, sampai nabi pernah berkata bahwa Uwais adalah pemimpin para tabi`in yang mulia. Uwais al-Qarni adalah seorang yang dikenal dengan kesalehannya, ia berasal dari suku Murad, daerah Qarn, Yaman.

Teladan Dari Uwais al-Qarni

Banyak sekali hikmah dan teladan yang dapat diambil dari kisah Uwais. tidak hanya terkenal dengan kesalehan dan kesederhanaannya, ia juga sangat terkenal sebagai sosok anak yang sangat hormat dan menyayangi orang tuanya.

Sosok Yang Ikhlas dan Sederhana

Dalam hidupnya, Uwais al-Qarni tidak bergelimang harta, tetapi ia tetap bersyukur dan ikhlas menjalaninya, seraya terus optimis untuk berusaha lulus dari ujian hidup dari Sang Maha Pencipta. Suatu ketika Allah uji Uwais dengan penyakit kusta, ia dengan ikhlas menerimanya, namun tak lupa berikhtiar untuk kesembuhannya seraya berdoa kepada Sang Penguji kehidupan, kemudian Allah pun menyembuhkannya.

Setiap hari Uwais bekerja sebagai penggembala domba. Upah yang didapatkan dari pekerjaannya cukup untuk menghidupi ia dan ibunya tersayang, jika mendapatkan kelebihan rezeki, tak lupa ia selalu membantu tetangga-tetangganya yang membutuhkan.

Anak Yang Sangat Menyayangi Orang Tua

Uwais al-Qarni juga sangat terkenal dengan rasa hormat kepada orang tua. Selepas ketiadaan ayahnya, hidup Uwais abdikan untuk merawat dan mendampingi ibu yang sangat ia kasihi. Uwais adalah figur yang sangat taat kepada pusaka hidupnya, sang ibu.

Ceritanya termasyhur tentang Uwais yang menggendong ibunya dari Yaman ke Mekah, demi memenuhi keinginan sang ibu yang sudah sepuh nan lumpuh, yang ingin melaksanakan ibadah haji. Sekilas seperti tak logis, karena jarak Yaman dan Mekah itu tidaklah dekat, padahal jika ditelisik, ternyata Uwais mempersiapkan melatih kekuatan otot-ototnya agar kuat menggendong ibunya dari jauh-jauh hari.

Sang ibu suatu ketika mengutarakan keinginannya untuk melaksanakan ibadah haji. Uwais yang belum bisa mengabulkan keinginannya karena masalah ekonomi yang belum mencukupi akhirnya membeli seekor anak sapi. Setiap hari ia menggendong anak sapi ke bukit sampai hampir setahun lamanya, tetangganya menganggap Uwais gila karena selalu menggendong anak sapi setiap harinya.

Setelah delapan bulan berlatih, otot-otot Uwais menjadi kuat, akhirnya ia membawa ibunya melaksanakan ibadah haji dengan menggendongnya dari Yaman ke Mekah. Tahulah akhirnya orang-orang, untuk apa Uwais menggendong sapi setiap hari ke atas bukit, ternyata demi rasa pengabdiannya kepada sang ibu yang ingin melaksanakan ibadah haji.

Kesalehannya Membuat Doa Uwais Makbul

Syahdan karena kesalehannya, Nabi pernah berkata kepada Umar bin Khatab, jika Umar ingin dimintakan doa agar diampuni dosanya terdahulu oleh Allah, ia diperintahkan untuk meminta doa kepada orang saleh, dan itu adalah Uwais al-Qarni. Maka tatkala datang kaum yang berhaji dari Yaman, Umar bertanya kepada mereka, apakah memang di Yaman ada orang bernama Uwais al-Qarni, dan mereka mengiyakan.

Setiap musim haji, Umat bin Khatab selalu mencari kafilah yang berasal dari Yaman, tak lupa ia bertanya adakah dari kafilah tersebut yang bernama Uwais al-Qarni. Suatu saat ketika Uwais pergi berhaji dan akhirnya bertemu dengan Umar bin Khatab, Umar langsung memeluknya sembari menangis dan meminta Uwais untuk mendoakannya untuk dimintakan ampun kepada Allah.

Uwais merasa heran, kenapa ia diminta mendoakan Umar bin Khatab yang dekat dengan Nabi. Namun setelah Umar menceritakan kronologis ia meminta doa kepadanya, akhirnya ia mengangkat kedua tangannya kemudian memanjatkan doa kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa Umar bin Khatab terdahulu sebelum mengenal Islam.

Dari figur Uwais Kita dapat belajar bahwa hidup dengan mengabdikan diri kepada orang tua adalah mengabdikan diri kepada Allah juga, dan itu adalah kunci untuk mendapat ridha-Nya. Semoga kita bisa mengambil hikmah hidup dari sosok Uwais al-Qarni, hingga kelak kita dikumpulkan bersamanya di hari kebangkitan dalam golongan muslim sejati. Aamiin.


Baca juga:

Share This :
Yonal Regen

Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

2 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak komentar. Semoga bermanfaat. Salam

  1. Teladan ketaatan anak pada ibunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ada mas Suden Basayev. Matur nuwun mas sudah sudi mampir di blog saya

      Hapus