BLANTERWISDOM101

Memanen Kesepian

Sabtu, 26 September 2020


Pandemi korona belum nampak akan berakhir dalam waktu dekat, dunia -dan juga Indonesia- masih harus bertahan dan bersabar dalam memeranginya. Walau segala sendi kehidupan yang terdampak mulai memperlihatkan kelesuan, namun tak ada pilihan lain selain melawan dengan bijak.

Dunia pendidikan yang tak luput dari dampak wabah korona ini, juga mulai kewalahan dengan sistem pembelajarn on line sebagai salah satu usaha dalam mengendalikan penyebaran korona. Lebih kurang enam bulan, guru dan murid berteman dekat dengan monitor gawai atau komputer, demi memenuhi hak dan kewajiban dalam proses belajar dan mengajar.

Kita yang ditakdirkan menjadi makhluk sosial memang tak mudah beradaptasi untuk berlama-lama bergumul dengan sekat monitor. Andai bisa memilih, pastilah pembelajaran dengan tatap muka di kelas akan lebih menjadi pilihan prioritas dibandingkan dengan pembelajaran on line. Namun memang kita tak boleh berkompromi, korona ini bukan main-main.

Berbeda dengan siswa yang tetap belajar di rumah, guru dengan beberapa kewajiban administrasi yang harus dilaksanakan, mengharuskannya untuk datang sesekali ke sekolah. Karena guru tak hanya memberikan materi di belakang layar, menjadi guru di Indonesia berarti harus siap dengan seabreg administrasi kerja yang harus dilaksanakan. Walaupun harus disyukuri, beban administrasi itu sedikit berkurang semenjak Nadiem Makarim merombak dan menyederhanakannya ketika ia dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Datang ke sekolah untuk melaksanakan kewajiban administrasi, guru juga tetap waspada dengan tetap menjaga protokoler kesehatan. Beruntung sekolah memfasilitasi alat-alat untuk menunjang hal tersebut, dimulai dari masker, face shield, hand sanitizer, sampai ruangan yang telah disemprot desinfektan.

Yang paling terasa berbeda saat datang ke sekolah di masa korona ini adalah suasana lingkungan sekolah yang sepi. Tak ada siswa-siswi di kelas, kantin yang tetap tutup, dan lapangan olah raga yang biasanya selalu ramai pun kini menjadi hening. Dan satu lagi, tanaman-tanaman yang berada di sekitar sekolah kini rindang berbuah, tak ada yang memanen!. Biasanya jambu air yang belum matang pun tak pernah bersisa, bahkan cermai belanda yang masamnya aduhai, tetap menjadi buah rebutan.

Jumlah guru yang tak berbanding dengan jumlah murid, tak bisa mengalahkan cara makan buah-buahan yang mereka habiskan dalam sekejap. Jadilah beberapa buah di taman sekolah itu masak di pohon, tanpa ada yang memetiknya. hati ini lebih senang jika buah-buahan yang ditanam dapat diambil manfaatnya dengan dimakan, dari pada berbuah tapi tak bertuan.

Ah korona, segeralah berakhir. Agar sekolah ini kembali hidup, agar tanaman-tanaman yang kami pelihara dapat di petik dengan cerianya oleh tangan-tangan atraktif nan cekatan. kami para guru menikmati gelak tawa mereka yang bergelantungan di pohon, seraya menikmati petikan buah matang, pun yang masih muda masam. Bukan begini, seperti saat ini, kita memanen dalam kesepian.

Share This :
Yonal Regen

Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak komentar. Semoga bermanfaat. Salam