Akhir Pekan Bersamamu

66 komentar


         Entah berapa lama aku terpenjara, tak merasakan deburmu yang bergemuruh dan birumu yang tak terkalahkan, hingga hari ini aku datang padamu, untuk kerinduan yang sudah bertalu-talu, dan aku bahagia engkau menunggu di sana dengan setia.

Engkau sedikit berbeda, kini parasmu semakin cantik penuh polesan. Namun kau tak meninggalkan identitas aslimu, tetap mempesona dengan rayuan kelapa-kelapa muda. Aku tak salah datang padamu, walau harus mempertaruhkan segalanya, termasuk ragaku. Karena hakikatnya aku belum terlepas sepenuhnya dari terungku makhluk mikroskopis itu.

Dan aku sedikit kaget, ternyata bukan diriku saja yang nekat mendatangimu atas nama rindu. Puluhan orang atau bahkan ratusan, penuh sesak mengagumimu. Ternyata waktu telah telah membuat orang-orang bosan, hingga rela menikmati akhir pekan dalam kenisbian.

Semoga saja Tuhan melindungi aku, kamu dan semuanya. karena mendatangimu bukan hanya untuk kepuasan nafsu belaka, tapi mengagumi bagaimana Maha hebatnya Penciptamu yang membuat  dirimu lebih digdaya dibanding tanah tempatku berpijak.

Semoga suatu saat, rasa was-was tak menyertai kedatanganku lagi. Walau rasa pesimis terkadang menghantui, karena korban pandemi ini tak pernah benar-benar berhenti.

Ah, satu yang kuingat tentang cerita-cerita yang  kau ujarkan, tentang sang ratu yang selalu disampingmu. Aura mistismu terpancar ketika kau menyebut namanya, rona birumu seakan berubah menjadi zamrut berkilauan, bersama kisah cinta yang terhianati, kehidupan abadi, dan dendam yang tak berakhir.

Dari legenda masyhurmu, akupun belajar bagaimana mengasihi. Aku dengan belahan jiwaku tak seindah dongeng cinderela, namun berusaha semampuku bagaimana memperlakukannya dalam derajat yang setara. Ketika jumawa laksana seorang raja menghampiri, aku ingat ada kerendahan hati sang permaisuri.

Ketika senja memaksaku kembali, aku pulang dengan sebuah senyuman, karena aku membawa kepuasan dengan segala cengkramamu tentang sepoi angin, buih ombak, dan palung samudera kasih.

Terima kasih untuk akhir pekan yang membuatku terkesan, dan aku meminta maaf atas nama kaumku yang sungguh gila, mengotori tubuhmu sedemikian rupa hingga sampah berserakan dimana-mana.

Yonal Regen
Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

Related Posts

66 komentar

  1. Ini ceritanya tehtang mau maen ke pantai ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan uncle, tapi cerita sepulang perjalanan dari pantai :)

      Hapus
  2. Pantai mana nih? Jadi pengen main juga😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelabuhan Ratu Sukabumi mas
      monggo ditunggu di pantai :)

      Hapus
  3. 'yesterday is history,tomorrow is mistery, and today is a gift'. ~kung fu panda
    ini slogan atau motto yg selalu kutulis dimanapun untuk menginspirasi anak muda untuk tidak menyerah ... mau ke Pantai Yuks berangkat .... πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

    BalasHapus
  4. Membaca artikel ini, aku jadi ingin main ke pantai. Sudah lama sekali, sejak entah aku juga sudah lupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. ALhamdulillah new normal membawa kami ke pantai :)

      Hapus
  5. keren banget rangkaian-rangkain katanya, serasa lagi baca puisi😍

    BalasHapus
  6. Saya pahamnya ini bukan seperti cerpen tapi rangkian diksi keren kak
    Pertahankan kak

    BalasHapus
  7. Pengungkapan perasaan kekaguman dan rindu kepada pantainya cantik banget, kak, terpenjara karena pandemi kah? Hihii

    BalasHapus
  8. apapun yang dilakukan asal kau bahagia ... dimanapun tetap akan menjadi indah ... terinspirasi sekali ....

    BalasHapus
  9. "Dan aku sedikit kaget, ternyata bukan diriku saja yang nekat mendatangimu atas nama rindu" #bestpart

    Sungguh puitis. Sepasang mata tak lagi bisa menggubris hal apapun di luar ini.

    Indah.

    BalasHapus
  10. uh pengen main deh pantai itu

    BalasHapus
  11. inginku main ke pantai itu

    BalasHapus
  12. Wah. Saya jadi pengen ke pantai juga. Oh, ya, aKak. Ada beberapa kalimat yang harusnya dikasih titik malah dikasih koma. Salah satunya di paragraf pertama. Kata 'Namun' harusnya di awal kalimat/setelah titik dan memakai huruf kapital di awal kata.

    Sekian dari saya. Jika kurang berkenan, saya mohon maaf. Tetap semangat. Sukses selalu. πŸ™πŸ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah terima kasih banget kak masukannya, konstruktif, dan ilmu banget...

      seneng banget dikasih masukan, salam wolak-walik.. :)

      Hapus
  13. Ini makna pantai yang tersirat. Awalnya aku kira bunga desa gitu ternyata bukan. πŸ˜…. Diksinya menarik

    BalasHapus
  14. Jadi kangen ke pantai juga :')
    Semoga, segera terlaksana setelah covid ini mereda :')

    BalasHapus
  15. Waaahh...kangen pantai juga setelah baca tulisan ini kak...
    .
    https://ceritabunda3plea.wordpress.com/2020/09/08/karena-anak-kita-adalah-peniru-sejati/

    BalasHapus
  16. Wah sudah menikmati masa new normal ya pak, saya jga sdah hhhh

    BalasHapus
  17. disamping mikir pengen ke pantai ,disisi lain malah ikut kebayang sosok seorang perempuan wkwk bahasanya tu lo, bikin imajinasi kemana-mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebetulan kita ke pelabuhan ratu, jadi pasti identik dengan sosok 'perempuan' dalam senandikanya

      Hapus
  18. Jadi ini kisahnya hasil dari mantai.
    Pantai itu paling mudah untuk dikunjungi bagi yang jaraknya dekat hehehhe

    BalasHapus
  19. Jangan lupa kunjungi pantai di Jogja, kak. Terus kita ketemu πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebelum covid ke jogya, sayang belum ke pantainya. semoga suatu saat nanti.. :)

      Hapus
  20. Keren banget, Kak. Kata"nya puitis banget. Walau sebenarnya aku awalnya g paham ini tentang apa sampe baca komentar.. Hehe..

    BalasHapus
  21. Kata-katanya bagus kakk, jadi pengen ke pantai juga hahah

    BalasHapus
  22. bacanya bikin senyum-senyum sendiri. Benar-benar menggambarkan perasaan rindu yang akhirnya berujung temu :)) Kirain ke seseorang, ternyata sama pantai. Bisa banget deh idenyaa

    BalasHapus
  23. Jadi kangen pantai.. Karena latarnya di pantai hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan senandika nya memang tentang pantai... :)

      Hapus
  24. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  25. Bagus kak kata-katanya, membuat aku jadi rindu untuk pergi wisata ke pantai. Tapi menurutku kata-katanya sedikit sulit untuk dipahami.

    BalasHapus
  26. MaasyaAllah jadi rindu pantai. Kapan ya diriku bisa bersua dengan pantai lagi.... hem, semoga segera. Bersama orang terkasih. May Allah Bless US Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, semoga kembali normal kondisi alam kita

      Hapus
  27. Ku semakin yakin, kang yonal sangatlah puitis😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. gegara belajar senandika di kelas sebelah teh wid

      Hapus
  28. maa syaa Allah aku sampai lupa kalau intinya itu main ke pandai waktu pandemi kwokwok saking cantiknya bahasanya :3 semangat kak

    BalasHapus
  29. Masyaallah puitis sekali. Maaf sedikit mengoreksi, itu ada kata "karena" yang tidak diawali dengan kapital, padahal pada awal kalimat. Semangat kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah terima kasih banget mbak untuk koreksinya
      I apreciate it :)

      Hapus
  30. Yaak, jadi pengen ke pantai juga seperti yang lain setelah baca ini.

    BalasHapus
  31. pengen main ke pantai jugaaa huhu, kata-katanya indah banget si kaak, sukaak

    BalasHapus
  32. Waaaaoooow kereeeen.... Postingannya udah banyak banget. Ceritanya keren kak, kupikir lagi ceritain kekasihnya, ternyata pantai. Aku nggak akan komentarin redaksional penulisannya, karena aku nggak paham PUEBI. Semangat terus menulis.

    BalasHapus
  33. Mbahas tentang pantai nyai blorong kah?

    BalasHapus

Posting Komentar