Single Parent Mandiri

4 komentar

‘Cinta tak selalu berarti menunggu dalam diam. Ada kalanya, dia yang memperjuangkanmu merasa lelah, karena berjuang sendirian. Tak tahu juga dimana ujungnya akan bermuara. Ia bilang terlalu lama. Bagaimana kalau ia menyerah?’ (halaman 163)
Demikian salah satu kalimat dalam epilog ‘Stupid Rena’, sebuah pesan dari sang penulis, Florensia Prihardini untuk memberikan sebuah umpan pada keputusan pembaca.
Novel setebal 165 halaman ini bercerita tentang sosok Rena dalam mengarungi dinamika keluarganya, bahwa riak dan arus selalu ada, membuat nakhoda terhuyung dalam memimpin laju kapal keluarga. Sampai pada akhirnya kata ‘perceraian’ tak bisa dielakan.
Selesai? Tentu tidak, menyandang status janda, berarti episode kehidupan baru yang harus dilalui dengan segala dinamikanya. Disinilah novel ini terus mengalir menceritakan tokoh utama terus berjuang demi sang buah hati, kanara.
Buku yang diterbitkan Caraka Publishing Tuban ini sangat layak dibaca oleh orang-orang yang sedang menyiapkan diri untuk berkeluarga, untuk pasangan menikah atau para orang tua, bahkan untuk para orang tua single parent yang sedang berjuang membesarkan buah hati secara mandiri dan juga menunggu cinta baru dalam kehidupan. Kenapa?. Karena buku ini tak hanya novel semata, tapi ada ilmu parenting yang sadar tak sadar dapat kita petik, tentang bagaimana urgensi mempertahankan keutuhan keluarga, bagaimana dampak sebuah perceraian pada anak, dan bagaimana rasa dengan label ‘janda’ disandang.

Yonal Regen
Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

Related Posts

4 komentar

Posting Komentar