a journey

Perempuan Tangguh Berbulir Air Mata

Posting Komentar
Perempuan Tangguh Berbulir Air Mata



Pernahkah membayangkan menjadi orang tua yang hadir di acara wisuda anaknya, namun anaknya tidak hadir, ia tidak hadir karena telah meninggal menjelang hari selebrasi kelulusannya?.

Gambaran tersebut pernah beberapa kali tersiar trending di media sosial, beberapa cuplikan sosok orang tua kuat yang hadir dan maju ke podium mewakili anaknya untuk menerima tanda dan penyematan kelulusan. 

Namun sekali lagi, bagaimana jika posisi orang tua itu adalah kita? 

Kakak Perempuanku

Adalah saudara perempuan tercantik di keluarga kami, satu-satunya perempuan diantara tiga bujang. Beliau sosok kakak yang dianugerahi rahim yang subur oleh Sang Maha Pencipta, karena menerima amanah tujuh anak dalam hidupnya, tiga perempuan dan empat laki-laki. 

Anak laki-laki nomor dua dan tiga, Darus dan Doris, kakak beradik ini berada di kelas akhir, satu di kelas dua belas, satu kemudian di kelas sembilan. Dua-duanya bersekolah di satu yayasan yang sama, Raudlotul Ulum. Sang kakak di tingkat Madrasah Aliyah, sedangkan adiknya di Madrasah Tsanawiyah. Keduanya pun telah mempunyai rencana selepas nanti lulus dari almamater mereka, Darus yang hobi mengutak-atik laptop berencana untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, sedangkan Doris yang bercita-cita menjadi ustadz, bermimpi untuk mondok di sebuah pesantren, namun tetap sembari ingin melanjutkan pendidikan formal di sebuah sekolah kejuruan. 

Ah,betapa sempurnanya rencana mereka. 

Namun benarlah pepatah yang mengatakan bahwa manusia hanya wajib berencana dan berusaha, namun Tuhan jualah yang menentukan. 

Takdir Yang Gaib

Jalan ceritanya memang menjadi berbeda, Ahad tujuh Juni 2020, seminggu sebelum pengumuman kelulusan, Doris Salim Alfatah, nama lengkap sang ponakan meninggal dunia, tepat seminggu setelah operasi usus buntunya. 

Sungguh begitu tak menyangka, karena sehari sebelumnya, ketika mengunjungi rumah teteh -demikian sang kakak dipanggil-, sosok almarhum masih bisa ditemui, namun entah kenapa, tetiba ketika bercengkrama dirumahnya, ingin sekali memotret anak laki-laki bersenyum manis itu, maka jadilah tangkapan layar gawai itu adalah gambar terakhir yang terekam. 

Sore diakhir pekan itu menjadi salah satu hari duka bagi keluarga, sungguh kami mengikhlaskannya, namun bulir-bulir air mata yang terus-menerus menganak sungai tak dapat kami bendung pula. Sang kakak, perempuan tangguh itu harus legowo menceritakan kronologis kepada para pelayat yang tak tahu diri menanyakan alur cerita ketika tuan rumah sedang berderai air mata. Sungguh ingin sekali kusumpal kegilaan mulut beberapa pentakziyah itu. 

Keluarga Yang Berduka

Umi, nenek dari almarhum, dengan kondisi fisiknya yang lemah beberapa kali pingsan tak sadarkan diri, raganya sekuat diri menahan kesedihan tak terkira ditinggal cucu yang selama ramadan banyak menemani buka dan sahurnya, bahkan selepas operasi pun beliaulah yang juga ikut menemani masa-masa pemulihan di rumah sakit. 

Semua keluarga yang ditinggalkan malam itu berkumpul dalam keheningan, saling memunajatkan doa dalam hati kepada Sang Maha Tempat Kembali, hingga akhirnya mata terkatup dipenghujung malam, namun belum pun beberapa lama mata ini tertidur, suara tangisan lirih terdengar, ternyata air mata sang ibu yang semakin lama semakin terasa pilu ditinggal sang anak makin terasa. Hanya bisa memeluknya, menguatkan hati, dan memberi sandaran bahu untuk sang kakak di saat-saat kami sama-sama merasa kehilangan, namun pastilah rasa seorang ibu adalah muara segalanya. 

Wisuda 

Setelah lebih kurang dua minggu, akhirnya tibalah acara wisuda kelulusan dua jagoan ini, acara kelulusan yang diadakan secara sederhana, karena mengingat kondisi masih dalam pandemi corona, maka acara pun sangat berbeda dari biasanya, kali ini seluruh tamu undangan memakai masker, dilakukan pengukuran suhu tubuh sebelum masuk ruangan dan juga penyediaan hand sanitizer di beranda. Demikian panitia melakukan itu demi mengikuti protoler kesehatan selama kasus covid-19 ini. 

Dan sang kakak hadir, menjadi wali untuk dua orang anak laki-laki kebanggaannya, namun raganya ternyata tak kuat untuk maju tatkala nama Doris Salim Alfatah dipanggil, hanya bisa mematung dikursi tamu, tak tahu apa yang harus diperbuatnya, beruntung sang kakak sigap, akhirnya dengan wajah memerah, membendung air mata dan menahan campur aduk rasa yang dialaminya, Darus salam Alfatah maju mewakili almarhum. 

Cucuran air mata teteh kembali tumpah setelah kembali ke rumah, lama sekali ia mendekap map tanda kelulusan anaknya dengan air mata yang ia tahan selama acara, sampai puncak pemanggilan nama anak yang telah dulu meninggalkannya. Kini di ruangan peraduannya, bulir-bulir air mata itu menganak sungai tak tertahankan, menemani segala kelebatan kenangan bersama anak ketiganya.

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email