a journey

Witir Yang Tak Khatam

2 komentar

cerpen ramadan

Tarawih malam ke-1
Tahun ini, di ruang keluarga sederhana tiga kali empat, keluarga pak Tias memutuskan untuk tarawih berjama’ah di rumah saja bersama keluarga, pak Tias mengikuti anjuran pemerintah untuk menjalankan ibadah di rumah ditengah pandemi corona, walau sebagian tetangganya masih ada yang berangkat ke Masjid, namun ini sudah diputuskan bersama istri, dan diamini Zain, anak sulungnya yang berusia tujuh tahun, walau sebenarnya dia ingin ke mesjid bersama teman-temannya, menikmati keseruan tarawih sembari main petasan.
“Yah, kita shalat Tarawihnya delapan raka’at kan?”
“Iya nak, di tambah tiga raka’at shalat witir, jadi sebelas”.
“Loh, koq nambah?”.
“Iya, shalat witir itu untuk menyempurnakan shalat Tarawih kita.”
“Ah. Aku ga mau ditambah, shalat tarawihnya mau delapan aja, yang tiga itu.. apa namanya? bukan tarawih kan?”.
Ibu dan pak tias saling berpandangan, tersenyum demi mendengar argumen anak laki-lakinya yang mulai belajar shalat tarawih.
Jadilah malam pertama itu, shalat tarawih asli delapan raka’at untuk zain, dia bersikukuh dengan pendapatnya, sedang pak Tias tetap melanjutkan meng-imami witir sang istri.

Tarawih

Tarawih malam ke-2
“Kalau kita ga shalat witir ga apa-apa kan yah?”.
“Shalat Tarawih itu sunah Muakad nak, jadi sangat dianjurkan.”
“Hmm..., aku mau satu raka’at aja ah, bisa kan? Witir itu artinya ganjil kan? Satu kan ganjil juga.”
“Boleh... “. Kali ini bu tias menjawab lembut permintaan anaknya.
Pak Tias beserta istri kembali berpandangan, kembali tersenyum dengan tingkah polah anak laki-lakinya yang masih tetap semangat ikut tarawih walaupun sepertinya Zain kecapean akibat euforia buka puasa.
Maka jadilah, setelah selesai delapan raka’at, Zain istirahat tidur-tiduran di sejadah, menunggu ayah dan ibu menunaikan dua raka’at witirnya, setelah itu ia ikut bergabung di satu raka’at terakhir. Betapa kuat tekad dan pendirian ragil pak Tias ini

Belajar Tarawih

Tarawih malam ke-3
“gimana? Masih kuat buat tarawih nya?”.
“Kuat donk yah, malam ini aku aku mau melengkapi tarawihnya sama witir”.
“Tumben?”.
“Kata mamah, pahala witir itu besar sekali, seperti unta merah yah”.

“Oo... tapi yang paling utama kita belajar ikhlas karena Allah ya shalat nya”.
Maka shalat malam ketiga dilalui dengan khusuk, di pimpin pak Tias dengan alunan merdu surah fatihah dan surah-surah dari juz tiga puluh.
Namun di raka’at-raka’at terakhir, Pak Tias tak mendengar suara amiin dari Zain, hanya suara khas ibu menyahut ujung fatihah pak Tias.

Ketika dipenghujung witir, pak Tias mengucap salam mengakhiri raka’at ganjilnya, kemudian membalikan badan memeriksa kondisi istri dan anak semata wayangnya sembari tetap melantunkan dzikir. Ibu Tias tampak tersenyum melihat sang imam menoleh kepadanya, sembari meraih tangan kanan dan di ciumnya penuh hidmat, namun Zain... ternyata dia ketiduran di sajadahnya, sepertinya dia kelelahan tak kuat menahan tertutupnya kelopak mata. Ibu dan pak Tias kembali beradu mata, tersenyum simpul dan menahan tawa melihat semangat anaknya yang kalah oleh kantuk.

Ending

Shaum Zain sangat semangat, berbanding lurus dengan semangat nya mengumpulkan segala jenis makanan kesukaannya sembari menunggu buka puasa, dan tatkala adzan maghrib berkumandang , waktu yang di tunggu tiba, ibarat membalas dendam, semua makanan yang ditimbunnya satu persatu dilahap dengan penuh suka cita, namun hal ini berimbas terhadap tarawihnya, semangat untuk melaksanakan shalat tak sejurus dengan kekuatan badan nya yang kelelahan, akhirnya mata Zain menyerah di detik-detik raka’at terakhir, pun witirnya belum terkhatamkan.

Related Posts

2 komentar

  1. Aneh yg org Indonesia malah takut pocong dr pd virus corona.

    BalasHapus

Posting Komentar