Musuh Besar Kita Bukanlah Corona

2 komentar

Suasana pembelajaran

Seiring dengan masih merebaknya kasus pandemi corona di Indonesia dan juga hampir diseluruh dunia, pemberitaan mengenai pandemi corona pun berseliweran setiap waktu di seluruh media, baik audio maupun visual, cetak maupun elektronik. Platform medial sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat juga seperti facebook, instagram, dan twitter masive dalam memberikan informasi. 


Kebebasan Media


Berbeda dengan media audio visual, cetak maupun elektronik yang mempunyai sistem filtrasi sebelum penayangan melalui proses editing, seperti pemberitaan di televisi atau koran, netizen pengguna media sosial akan merasa bebas tanpa kungkungan berekspresi dalam menyampaikan informasi. 

Namun, kebebasan itu sering kali menjadi momok, informasi yang tersampaikan melalui media sosial dianggap kurang valid keabsahan beritanya, atau bahkan kita menemukan beberapa informasi yang termasuk kategori hoax. Karena mudahnya akses menu membagikan di setiap media sosial, pengguna media sosial yang kurang ter-edukasi akan sangat senang untuk men-share berita, apapun. 

Menanggapi Berbagai Berita Yang Tersebar


Dengan fenomena banyaknya informasi yang tidak valid di tengah pandemi corona, beberapa menyarankan untuk tidak terlalu memperdulikan serbuan broadcast yang mungkin sampai diberanda media sosial kita, karena kekhawatiran yang ditimbulkan dari membaca berita negatif, dipercaya akan menurunkan imunitas pembaca, sehingga dengan turunnya daya tahan tubuh, dikhawatirkan justru lebih rentan terhadap virus, termasuk covid-19. 

Bagaimana jika berita negatif yang tersaji adalah fakta yang terjadi di lapangan? haruskah kita sebagai viewer menghindar untuk tidak mengacuhkan berita semacam itu?, atau bahkan bertambah syok dengan fenomena menyeramkan dari pandemi corona, akhirnya down dengan kekhawatiran yang berlebihan?. 

Kita membutuhkan stress menejemen yang baik, pun dalam menyikapi beredarnya ragam informasi di media, apapun berita yang di terima, hal yang pertama harus di lakukan adalah ber-tabayun atau mengkroscek validitas berita tersebut. Bagaimana caranya?. Setelah menerima informasi dari suatu media, bandingkan dengan media mainstream nasional, apakah terdapat berita yang serupa? secara umum, media nasional meliput kejadian global yang validitasnya lebih baik, sehingga bisa dijadikan acuan dan bandingan dengan sesama media. 

Jika informasi negatif tertayang di beberapa media, sehingga diasumsikan sebagai fakta yang kuat, maka tetap, kepanikan dan kekhawatiran dari individu pembaca tidak diperlukan, karena itulah yang akan memperburuk kondisi imunitas. Seyogyanya berita yang tersajikan, apapun, termasuk berita negatif, jadikan sebagai bahan informasi untuk menambah kewaspadaan dan kehati-hatian kita dalam melaksanakan tahapan-tahapan preventif menghadapi penyebaran virus corona. Musuh besar kita bukanlah corona, tetapi sikap kita dalam menghadapinya.
Yonal Regen
Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

Related Posts

2 komentar

  1. Iya betul. Logika dan literasi yang cukup dan intinya berpikir positif yang akan menyelamatkan kita dari kepanikan

    BalasHapus
  2. semoga netizen juga semakin teredukasi untuk tidak sembarang men-share hal yang belum pasti ke-valid-an berita yang berkembang di masyarakat

    BalasHapus

Posting Komentar