BLANTERWISDOM101

Urgensi Menjaga Kesehatan Mental Para Ibu di Masa PSBB Transisi

Kamis, 22 Oktober 2020

 

Pandemi belum juga mereda sampai ujung tahun 2020 ini, dan dampaknya semakin terasa di segala lini kehidupan. Namun kehidupan harus terus berjalan, tak cukup hanya berdiam diri tanpa solusi, menunggu keajaiban pandemi ini akan segera berakhir. Tetap di rumah bukan berarti hanya rebahan saja, masih banyak aktivitas yang harus kita lakukan agar kita tetap terjaga kewarasan.

Dunia pendidikan adalah salah satu yang terkena dampak pandemi corona ini, hampir semua sekolah di dunia dialihkan, dari sistem belajar tatap muka menjadi belajar daring (dalam jaringan). Butuh adaptasi yang luar biasa baik dari guru sebagai pemberi materi, maupun dari siswa sebagai penerima ilmu. Namun, ketika sistem pembelajaran dialihkan menjadi pembelajaran virtual, tugas dalam pembelajaran itu bertambah, tidak hanya ada di ranah guru dan murid saja, namun orang tua pun harus ikut andil sebagai pendamping putra-putrinya dalam pembelajaran on line.

Sangat penting orang tua dalam mendampingi setiap anak dalam belajar, terutama usia sekolah dasar yang belum familier dalam menggunakan gawai dan aplikasi-aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran. Jika anak sudah mengenal cara penggunaan gawai pun, proses pembelajaran seyogianya harus tetap didampingi untuk mencegah penggunaan gawai ke hal-hal di luar pembelajaran. Yang paling krusial, pendampingan berfungsi agar proses pembelajaran anak tetap fokus dengan pengawasan orang tua, juga anak dapat bertanya kepada orang tua jika ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

Dalam mendampingi proses pembelajaran, sejatinya ini adalah tanggung jawab kedua orang tua -baik sosok ayah mupun ibu-. Namun pada kenyataannya, tugas pendampingan ini lebih banyak dilakukan oleh sosok seorang ibu dikarenakan peran ayah yang bertugas mencari nafkah. Jadilah hari-hari para emak dalam masa PSBB transisi ini banyak bergumul dengan pendampingan putra-putrinya dalam belajar on line di rumah.

Tak mudah bagi seorang ibu yang tetiba mendadak menjadi sosok guru pandamping bagi anaknya. Banyak sekali kasus frustasi ibu-ibu dalam mendampingi anak-anaknya belajar. Menjaga kewarasan dalam kondisi seperti ini memang tak mudah, namun bukan berarti mustahil sama sekali.

Beberapa hal bisa dilakukan untuk tetap menjaga kesehatan mental seorang ibu dalam mendampingi anak-anaknya belajar, salah satunya dengan mengajak anak belajar membuat kudapan atau camilan ketika proses belajar selesai. Banyak sekali ragam kuliner yang bisa dibuat dengan anak, salah satunya Cendol –orang Sunda menyebutnya Candil-. Jika anak belum familier dengan nama Cendol, coba sebut saja Boba, sepertinya nama itu lebih dikenal anak-anak, toh bentuk keduanya mirip. Sebut saja cendol adalah boba dengan kearifan lokal.

Sosok ibu adalah sosok yang memang harus multi talenta, di luar pekerjaan domestik rumah tangganya, kini di masa PSBB transisi tugasnya bertambah dengan menjadi guru pendamping untuk anak-anaknya. Seorang ibu harus sangat kreatif untuk tetap menjaga kesehatan mentalnya di tengah tugas-tugasnya yang tak pernah berhenti. Semoga kebersamaan dengan putra-putri kita dengan membuat kudapan, camilan, atau masakan apapun, bisa mengurangi tingkat kesetresan para ibu, serta dapat meningkatkan ikatan kasih sayang antara ibu dan anak.

 

Share This :
Yonal Regen

Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

0 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak komentar. Semoga bermanfaat. Salam