a journey

Ghibah Bu Guru Tentang Suami Gilanya

Posting Komentar


Cerpen
Edited from Canva

Ih, kalian pikir punya banyak anak itu enak?, nih ya dengerin, kalau pagi-pagi kita nyuapin tiga anak, yang umur satu sama yang umur tiga tahun berebut pengen disuapin duluan, yang umur enam tahun malah ikut-ikutan rewel pengen di suapin juga, akhirnya pecahlah tangisan tiga bocah, kita rasanya jadi pemimpin paduan suara, bayangkan gimana pusingnya? Sedangkan bapaknya enak saja lanjut makan tanpa terbebani suara tangisan mereka”. Retno sangat antusias bercerita tentang repotnya mengurus tiga anak kepada dua teman sesama gurunya yang kebetulan belum dikarunia momongan.

Istirahat Sekolah = Waktunya Ghibah

Lina dan Pita tak kalah seriusnya mendengarkan celotehan Retno, perempuan paruh baya yang berstatus pegawai negeri sipil, tentang pengalaman mengurus anak. Bagi mereka ini adalah sebuah petuah, belajar dari sang maha senior tentang bagaimana chaos-nya berurusan dengan anak, terlebih jika sang suami tak ikut andil mengurus.

Jadilah jam istirahat itu menjadi bahan ghibah yang luar biasa, karena pembahasan tentang mengurus anak berubah tema menjadi ‘betapa tak tahu dirinya suami Retno’ yang tidak peka, yang tak pernah membantu mengurus anak-anak, yang tetap santai sarapan, walau anak-anaknya sedang berebut suapan sang ibu.

“Makanya kalian pastikan pada suami kalian masing-masing dari sekarang, jika punya anak nanti, mereka harus bisa bantu, supaya kita tidak kelelahan”. Retno sangat bersemangat memberi kesimpulan di akhir cerita, setelah ia berbusa-busa menjelek-jelekkan suaminya sendiri.

Lina dan Pita mengangguk-angguk tanda mengamini ucapan Retno, mereka berdua ibarat kerbau yang diikat kendali, turut dengan pak tani yang menyuruhnya membajak. Mereka juga bersepakat dalam hal pemikiran tentang sosok Yana, suami Retno yang hanya berprofesi sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan penerbitan buku indie. Dua kata untuk Yana dari mereka berdua, ‘suami bangsat’.  

Obrolan seru tiga guru perempuan ini berakhir dengan ditandai bel masuk setelah istirahat, mereka kompak melirik jam dinding yang menterakan pukul sepuluh lebih tiga puluh, tanda pelajaran jam kelima harus dimulai. Jadilah mereka bergegas ke meja masing-masing, menyiapkan buku ajar dan bahan pendukung lain, seraya bersiap-siap masuk kelas.

***

“Belum ada makanan mas, aku belum sempet masak, tadi kecapean habis pulang ngajar.” Retno yang sedang istirahat rebahan dengan gawai yang setia di tangan kanan, menyambut Yana yang baru pulang kerja dengan berondongan kalimat alasan ia tak bisa menyediakan makan untuk sang suami.

“Iya, nggak apa-apa sayang.” Jawab sang suami sambil tersenyum mendengar sambutan pulang dari Retno.

Yana kemudian menyimpan tas, lalu menyingsingkan kemeja tangan panjang abu-abu yang ia kenakan. Sejurus kemudian ia beranjak ke dapur untuk memasak. Namun kemudian ia menunda dulu niatnya membuat sesuatu untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan, karena ia disambut dengan tumpukan piring kotor di tempat pencucian. Maka ia memilih untuk membersihkan dulu piring-piring berminyak di hadapannya.

Ending

Dalam hati kecilnya, Yana ingin sekali-kali pulang ke rumah setelah bekerja disambut dengan segelas teh hangat, atau makanan yang telah tersaji untuk kemudian langsung ia makan. Tapi nyatanya tidak.

Yana lebih memilih berdamai dengan keinginan ego sebagai suami, dan konsekuensinya, ia akhirnya terbiasa dengan pekerjaan-pekerjaan domestik rumah tangga. Mulai dari menyuapi makan anaknya, mencuci, sampai menyiapkan makanan untuk keluarga.

#fiksimini

Related Posts

Posting Komentar

Follow by Email