BLANTERWISDOM101

Para Pembangun Mimpi

Rabu, 23 September 2020

Menjalani profesi sebagai guru di sebuah desa dengan latar belakang dan kearifan lokalnya membawa kisah unik tersendiri. Karena dari back ground orang tua para siswa itu, akhirnya membentuk karakteristik siswa dalam pola pikir kesehariannya, dimana hal tersebut juga berpengaruh pada pengambilan keputusan yang harus mereka ambil untuk masa depan.

Bagi sebagian warga, bisa mengenyam pendidikan di level madrasah aliyah adalah anugerah tersendiri. Dengan pemikiran demikian, untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dianggap cita-cita yang terlalu tinggi, bahkan mungkin dianggap berhalusinasi.

Bekerja bagi mereka lebih logis sebagai pilihan ketika lulus dari madrasah. Menghasilkan rupiah akan lebih masuk akal, dibandingkan menghabiskan waktu empat tahun untuk kembali belajar. Atau bahkan, beberapa lulusan siswa putri bersiap-siap untuk melangsungkan pernikahan setelah selesai akhir ujian.

Dari sebagian besar pola pikir yang berkembang di antara para siswa, ada beberapa yang berani mendobrak hambatan dalam diri mereka. Walau secara kuantitas masih terbilang jari, tapi kehadiran mereka yang berani mengejar mimpi-mimpi tinggi yang mereka cita-citakan bak oase ditengah gurun. Serasa ada satu dua kalimat nasihat ini yang akhirnya berfaidah, kalian dengarkan, kemudian dilakukan.


Mereka adalah sosok-sosok hebat yang berani mempertahankan idealisme bahwa menuntut ilmu tak hanya cukup dalam hitungan 12 tahun. Perguruan tinggi tidak lagi menjadi sebuah hayalan, tapi kawah candradimuka yang akan menempa mental. Mereka adalah sosok-sosok keras pendirian, bahwa takdir yang ada di tangan Tuhan harus diperjuangkan.

Mereka adalah para pejuang yang akan menjadi contoh untuk generasi masa depan, bahwa anak kampung bisa mengenyam bangku kuliah, meraih titel sarjana, dan menjadi alumni yang dapat dijadikan panutan. Dan yang paling krusial, mereka akan menjadi agen perubah pola pikir masyarakat. Mereka adalah insan cendekia yang akan membawa maslahat untuk umat.

Semoga dari satu, dua alumni, akan berubah menjadi angkatan-angkatan lulusan yang berani bermimpi kemudian bangun mengikuti jejak mereka. Merubah pemikiran: cita-cita sebagai fatamorgana menjadi sesuatu yang nyata.

Terima kasih anak-anakku, kalian telah memutus rantai belenggu dalam  pemikiran, untuk tidak menjadikan kemiskinan sebagai kambing hitam tidak berkembang. Kalian telah bangun dari tidur panjang, seraya melangkah merealisasikan mimpi yang kalian cita-citakan .

Share This :
Yonal Regen

Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

2 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak komentar. Semoga bermanfaat. Salam

  1. Selalu semangat ya mas, untuk membantu mewujudkan impian anak didiknya menjadi apa yang mereka cita-citakan

    BalasHapus