BLANTERWISDOM101

Masyarakat Reaktif Dalam Tilik dan Cream

Rabu, 16 September 2020

Akhir-akhir ini film pendek ‘Tilik’ menjadi sangat trending dibicarakan di berbagai platform media sosial. Yang paling kentara adalah seringnya pemeran Bu Tedjo (Siti Fauziah) wara wiri di acara talk show televisi swata nasional. Film yang mengambil latar Yogyakarta ini memang sangat menarik perhatian, Wahyu Agung Prasetyo sang sutradara mengemas dengan apik film yang sangat kental dengan kearifan lokal Jawa ini.

Tilik sendiri adalah kebudayaan menjenguk orang yang sakit di masyarakat pedesaan Indonesia, yang dalam film ini direpresentasikan oleh ibu-ibu yang akan menengok Bu Lurah yang sedang dirawat di rumah sakit. Budaya menjenguk orang sakit di masyarakat kita adalah budaya luhur yang sangat positif, karena menggambarkan kebersamaan dan kekeluargaan dalam masyarakat. Bagaimana tidak, biasanya ibu-ibu yang menjadi garda terdepan tilik ini rela urunan dana untuk tetangga yang sedang sakit, juga menyempatkan waktu bersama untuk menengok ke rumah sakit.

Beberapa ada juga yang merasa bahwa budaya tilik ini tidak baik, bergerombol datang ke rumah sakit, selain mengganggu hak pasien untuk beristirahat, juga mengganggu pasien lain. Demikian selalu ada pro dan kontra di setiap kebiasaan yang ada di masyarakat, kita tinggal belajar mengambil yang baik, dan mem-filter mana yang sebaiknya kita hindari.

Berbeda dengan tilik, nun jauh di belahan Eropa sana –tepatnya di Inggris-, David Firth menyutradarai sebuah film dark animation berjudul Cream yang menceritakan tentang Dr. Bellifer, seorang ilmuan jenius yang telah menemukan sebuah produk baru yang revolusioner setelah penelitian yang lama, yaitu sebuah krim yang dapat mengobati dan menyelesaikan segala masalah yang ada di dunia.

David firth yang seorang penulis, pemusik, animator, aktor, juga dikenal sebagai sutradara yang membuat film-film untuk mengkritisi fenomena yang ada di masyarakat. Tidak hanya ‘cream’, film absurdist humour lainnya yang juga ia produksi adalah Salad Fingers, Spoilsbury Boy, dan The Unfixable Thought Machine dapat kita nikmati di saluran you tube miliknya.

Banyak moral value yang dapat kita ambil baik dari Tilik maupun dari Cream. Salah satu dari sekian nilai sosial yang dapat kita pelajari adalah tentang gambaran masyarakat yang reaktif terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Dalam tilik kita melihat bagaimana respon ibu-ibu pada umumnya menanggapi sebuah informasi yang beredar di masyarakat, mereka sangat antusias dengan berita yang beredar tanpa peduli dengan kebenaran isi dari berita tersebut.

Film cream juga menggambarkan masyarakat yang sangat menggebu-gebu dengan adanya produk baru yang diklaim dapat mengatasi segala permasalahan yang ada di sekitar kita. Tanpa mempedulikan efek samping yang diakibatkan dari produk tersebut, masyarakat dibutakan dengan kehebatan krim multi fungsi itu.

Pada akhirnya, dari dua film itu dapat kita tarik benang merah, bahwa sikap reaktif pada akhirnya dapat memberikan ending yang tak selalu indah. Pada tilik, walaupun Bu Tedjo memberikan data valid dari media sosial tentang informasi yang ia sebarkan, di ujung cerita kita tahu bahwa info tersebut meleset dari kebenaran. Demikianpun dalam film cream, kita dapat melihat ujung cerita yang chaos akibat dari penggunaan krim yang membabi buta.

Dari kedua film ini kita bisa belajar bahwa seyogianya sikap aktif –bukan reaktif- harus kita miliki dalam menyikapi setiap fenomena yang ada di sekitar masyarakat. Cek dan ricek atau tabayun dalam istilah agama sangat kita butuhkan ditengah masyarakat kita yang sangat mudah terprovokasi.

Sulit di pungkiri bahwa masyarakat kita memang sangat mudah tersulut emosi, hal ini diamini oleh Prof. Amin Abdullah, Guru Besar sekaligus rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam acara Stadium General di Universitas Airlangga, Prof. Amin menegaskan bahwa  kita butuh metode dan pendekatan yang tepat. Bukan materi, tapi butuh pendekatan. Dijadikan sebagai alat berpikir sosial keagamaan sehingga masyarakat tidak mudah terprovokasi.

Tilik dan Cream telah membuktikan pendekatan yang baik dalam menyampaikan pesan, walaupun pesan tersebut harus kita telaah dari berbagai sudut pandang, sehingga kita sampai pada kesimpulan yang positif dari keduanya.

Share This :
Yonal Regen

Ayah dari qurrota a'yun; mufid, fariha, syafiq. Pengajar di Raudlotul Ulum serta volunter di filantrofi Rumah Ziswah

28 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak komentar. Semoga bermanfaat. Salam

  1. Ulasannya lengkaaaap kak... Tulisannya juga baguusss... Cara menyampaikan ulasannya mudah difahami..

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kak, masih belajar nih buat review film

      Hapus
  2. Dua film ini menggambarkan betapa mudahnya menggiring opini publik.

    BalasHapus
  3. Selamat ya kak:) sudah memenuhi kewajiban tugas wajib ODOP ke-2 hehe.
    Sukses selalu kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, mudah-mudahan tidak ada yang tereliminasi di minggu kedua ini

      Hapus
  4. Tulisannya Bagus dan terkesan beda dari yang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kak Aini, masih belajar juga saya buat review

      Hapus
  5. saya setuju sih kak, apalagi di film Tilik, tergantung kita punya PoV di sisi yang pro atau yang kontra 😁

    BalasHapus
  6. Mantab reviewnya, sangat informatif

    BalasHapus
  7. Sangat informatif, suka reviewnyaaa✨

    BalasHapus
  8. Yup, sepakat Mas. Kecenderungan masyarakat saat ini terlalu reaktif dalam menyikapi informasi yang beredar.

    BalasHapus
  9. Ulasan filmnya luas, menambah wawasan. Terima kasih Kak!

    BalasHapus
  10. Reviewnya keren mas. Aku sukaaa

    BalasHapus
  11. bapak ini penuh kejutan memang, keren review nya

    BalasHapus
  12. Keren banget review nya. Sarat informasi. Makasih

    BalasHapus
  13. Manteps kak, ulasannya sangat membatu hati ini yang sedang gundah gulana, uhuy .. . 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih. hmm... ada apakah gerangan dengan hati yang gundah gulana?

      Hapus
  14. suka sama reviewnya kak,
    karena melihat dari sisi yang berbeda

    BalasHapus
  15. ini cara nulisnya yang saya suka sih. bisa jadi reverensi kalau misalnya kedepan mau nulis deskripsi berbentuk cerita. mantap kak

    BalasHapus