Iqro dan Relasinya Dengan Literasi

1 komentar

 

iqro
Nabi Muhammad SAW saat pertama kali menerima wahyu dari Allah melalui perantara malaikat jibril adalah dengan menerima kata ‘iqro’ yang berarti bacalah. Kata iqro yang dalam Bahasa Arab menjabat sebagai fi’il amar mempunyai makna sebagai sebuah kata kerja perintah, sehingga dapat diartikan kata iqro ini sebagai perintah untuk membaca.

Membaca

Dalam kontek ‘membaca’ pada ayat pertama surat al’alaq ini, dijelaskan lebih spesifik dalam tafsir al-muyasar bahwa kata iqro ini berhubungan dengan nabi sebagai sosok ‘ummi’, seorang yang tidak bisa menulis dan membaca, sehingga dengan turunnya ayat ini sebagai indikasi perintah kepada nabi untuk membuka mata terhadap dunia yang berhubungan dengan menulis dan membaca, karena nabi akan menjadi sosok yang akan membacakan kalam Allah secara berkelanjutan setelah turunnya ayat perdana ini. 

Sedangkan makna yang lebih universal di jelaskan oleh Dr. Muhammad Sulaiman Al asyiqor dalam tafsir min fathil qodir, bahwa makna ‘iqro’ tersebut juga mengandung makna bahwa kita sebagai manusia harus mempunyai kemampuan literasi yang baik dengan memperbanyak mengamati dan mengambil pelajaran dari alam ciptaan Allah ini. dengan kata lain beliau menyimpulkan kata ‘iqro’ sebagai membaca ilmu pengetahuan. 

Kewajiban Membaca


Kita bukanlah nabi, tetapi kita adalah umat nabi yang tentunya harus menjadi para pewaris terhadap ilmu-ilmu yang telah didakwahkan sepanjang hidupnya. Untuk menelusuri jejak ilmu yang terdapat dalam dua pusaka nabi -qur’an dan hadits-, kemampuan literasi mutlak dimiliki oleh setiap umat. Makna literasi sendiri berbanding lurus dengan makna iqro, yaitu kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, juga memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

let's be literate

Membaca di Masa Corona

Saat ini, di tengah pandemi corona yang belum berakhir, kita memasuki tahap adaptasi kebiasaan baru, dimana gerak kita tidak sebebas pada kondisi normal sebelum corona ini hadir. Tapi tidak ada alasan untuk tidak atau mengurangi jatah waktu untuk terus mendalami dunia literasi. Justru, momen pandemi corona ini bisa di jadikan waktu ‘membaca’, melek terhadap informasi agar tidak terjerumus pada berita-berita hoax yang berseliweran, menakuti, dan membuat cemas warga. Maka, dengan berliterasi kita bisa ikut andil dengan memberikan informasi bandingan yang validitasnya bisa dipercaya. 

Maka tidak lain, ketika kita ingin belajar tentang literasi, kita harus membuka mata, berpemikiran terbuka, membaca, dan menulislah!. 

Yonal Regen
I'm a Father of four, educator at Raudlotul Ulum School and author of Narasi Ayah Guru

Related Posts

1 komentar

Posting Komentar

Follow by Email