a journey

Menilik Sensor Perfilman Asia

Posting Komentar
menilik seberapa ketat sensor film di Asia


Setelah terbius oleh film Thailand 'Alone' di susul dengan 'Shutter' /keduanya merupakan film horor dan keduanya di sutradarai oleh orang yang sama, makin penasaran saja untuk hunting film-film Asia. ternyata banyak sekali film Asia yang tidak kalah mutu dengan film Hollywood, dan ternyata banyak juga film-film Asia yang menjadi official site di kancah festival perfilman internasional, bahkan beberapa sineas film Asia telah diakui secara global dan di percaya menggarap film barat seperti sutradara Ang Lie 'Brokeback Mountain'

Lembaga Sensor di Asia


sepertinya hanya di negara serumpun saja seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunai Darrussalam yang masih ketat dalam penyeleksian film-film yang boleh beredar di bioskop. sebagai contoh, di Indonesia untuk tahun 2008 film ML/ 'mau lagi' di tolak mentah-mentah oleh LSF untuk edar bahkan setelah melakukan pengeditan dan penggantian judul sampai dua kali, baru setelah ke tiga kalinya film Thomas Nawilis ini edar dengan judul cintaku selamanya dengan pengguntingan pita sampai 15 meter untuk memotong adegan-adegan seronok dalam film itu.

Apa itu lembaga sensor?

Sensor sendiri menurut Oxford Dictionary adalah 

Censor means official with authority to examine letters, books, periodicals, plays, film etc and to cut-out anything regarded as immoral or in otherways undesirable. 
Maka dalam dunia perfilman sensor bermakna "suatu film dapat dilakukan pemotongan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang dianggap tidak bermoral atau tidak layak". yang tentunya dilakukan oleh Lembaga Negara. Di Indonesia lembaga itu disebut Lembaga Sensor Film (LSF)

mungkin karena itu kali ya Nia Dinata cs yang tergabung dalam komunitas 'masyarakat film Indonesia' ingin sekali menghapus LSF dengan dalih menghalangi para sineas untuk berekspresi. Padahal, banyak juga film Asia yang sukses di pasaran dan di kancah festival perfilman internasional tanpa embel-embel sex. sebut saja 'tare zamen par'/every children is special, film India yang di bintangi juga diproduseri oleh Amir Khan ini lolos menjadi nominasi best foreign film di Oscar, filmnya sendiri hanya tentang seorang anak yang menderita Dislexia. ada juga film jepang 'little DJ' yang bercerita tentang seorang anak penderita leukimia, juga sukses di festival film Internasional. 

Untuk Indonesia sendiri 'berbagi suami' telah melanglang buana ke berbagai negara, di susul 'Denias senandung di atas awan' meraih award di Asia Pasific Movie sebagai the best children movie, kini 'Under the Tree' sedang berjuang untuk berlomba di beberapa festival di Eropa, tak ketinggalan film goyang heboh Dian Sastro '3 doa 3 cinta' juga telah berkiprah di Amerika, Eropa, bahkan di Dubai Arab.

Simpulan

semoga ke depan film-film Asia bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, khususnya Indonesia, semoga lebih banyak film-film bermutu, tidak hanya 'naga bonar menjadi 2', 'ayat-ayat cinta', atau 'laskar pelangi'. By the way, bagi teman-teman penikmat laskar pelangi.. siap- siap, 'sang pemimpi' sedang di godok nih skenarionya oleh Riri Reza dan Mira Lesmana.

Baca Juga:

Related Posts

Posting Komentar